Transisi

Transisi

Semula kepindahan Tegak Lurus Bumi ke WordPress, saya berencana WordPress untuk tulisan mengenai global health, Tumblr tetap menjadi tempat curhat ngalor ngidul entah apa. Tapi ternyata kebablasan nyaman sama WordPress. #eh. Jadi saya putuskan menulis di sini juga, dalam kategori Journal. Kiranya dengan dituang dan mengalir, ia tidak menjadi keruh.

Saya sudah cukup lama tidak menulis, ada rasa enggan ikut arus penulis yang tulisannya sebagian besar bernaung di linimasa media sosial, yang sebenarnya secara umum merupakan hal baik. Saya berusaha menjauhi bacaan soal opini orang lain mengenai isu sosial. rasanya cukup dulu Pilkada membuat saya banyak kehilangan teman dan memalingkan diri dari politik sementara waktu.

Saya berusaha menjauhi bacaan soal opini orang lain mengenai isu sosial. rasanya cukup dulu Pilkada membuat saya banyak kehilangan teman dan memalingkan diri dari politik sementara waktu.

Saya mulai lagi, dengan Transisi.

Saat kita berumur 1 tahun, kemudian waktu berlalu dan umur kita menjadi 2 tahun, rasanya begitu signifikan arti sebuah ulang tahun. Umur kita menjadi dua kali lipat umur sebelumnya.  Coba perhatikan, semakin bertambah dewasa, misalnya umur 20 ke 21, tidak begitu berarti karena ia bertambah hanya 1/20, tidak lagi 2 kali lipat. Mungkin, tanpa kita sadari, begitu pula yang terjadi dengan bulan dan hari. Mungkin, itu juga yang terjadi dengan setiap momen,

Kita merasa perencanaan semakin panjang ke depan semakin bagus, hitungan tahun bahkan puluhan tahun. Saya berencana kuliah di Harvard tahun 2020, menikah di umur 26, dua orang anak, tinggal di sudut Yogyakarta. Lumrah dan visioner, bukan?

Beberapa bulan ini, banyak renungan-renungan yang saya hitung mundur menyusuri memori, bukan ke depan meraba masa. Prof. Richard Muller bertanggung jawab penuh atas pikiran saya mengenai konsep waktu karena buku terakhir beliau, Now: The Physics of Time, mengenai relativitas waktu. Dalam bukunya, Prof. Richard memaparkan bagaimana sebenarnya konsep “sekarang”, “saat ini” sebenarnya relatif tergantung sudut pandang siapa, tidak absolut. Contoh sederhana: GPS yang kita pakai di gawai? Satelit harus menyesuaikan waktu di jam kita dengan pergerakan satelit tersebut (3.8 km per second), kecepatan tersebut membuat dilatasi waktu dalam 1 hari (24 jam) memanjang sebanyak 7,200 nanosecond, saking kecilnya seperti tidak ada perbedaan (tepatnya 24,000000002 jam). Kecepatan gelombang radio adalah 1 kaki/nanosecond. Akibatnya, harus ada kalkulasi dilatasi waktu antara “saat ini” menurut satelit dan “saat ini” menurut kita, pengguna GPS. Jika satelit mengabaikan adanya dilatasi waktu ini, maka posisi kita sejauh 7,200 nanosecond, yaitu 7,200 kaki, kira-kira 2.25 km. Sulit mengatakan bahwa 7,200 nanosecond tidak signifikan, karena dengan dilatasi sesingkat itu, posisi kita bisa meleset 2.25 km.

Hal ini juga membuat saya berpikir mengenai sifat omnipresence Tuhan semakin dekat untuk dipahami manusia seiring berkembangnya pengetahuan mengenai waktu. 

Saya menelusuri ulang, tahun-tahun, bulan-bulan, hari-hari yang telah dijalani, bagaimana keputusan-keputusan minor menyusun momentumnya menjadi sebuah klik: keputusan mayor. Bagaimana itu juga mungkin terjadi di kehidupan orang lain, di masa yang sama, masa yang berbeda, masa yang akan datang, masa yang batal datang karena keputusan-keputusan minor di tengahnya. Selagi waktu memang linier berjalan ke depan, tapi diri saya mengalami transisi ke belakang. Mengutip Tame Impala, it feels like I (we) only go backwards.

Pikiran saya penuh sesak dengan absurditas perjalanan waktu dan sekuens kejadian.

Jika saya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memulai ulang kehidupan dari nol dan saya bebas memilih hidup siapa pun, kehidupan siapa yang akan saya minta?

Dalam doa dan renungan, saya mendapatkan beberapa hal yang menjadi pertimbangan; Tuhan berdaulat penuh (Ratapan 3:37-38; Ayub 2:10; Amsal 16:33; Matius 10:29), Tuhan akan menjalankan seluruh rencananya (Ayub 42:2; Yesaya 46:10; Daniel 4:35), dan tentunya (Kejadian 50:20) dan (Ibrani 12:11).

Pada akhirnya saya menjawab, saya akan jalani diri saya lagi. Dengan segala kegagalan, kepahitan, jatuh bangun, dan air mata, saya akan jalani lagi dengan sukarela.. karena jika ini yang terbaik, untuk apa menghidupi kehidupan lain yang bukan kehidupan terbaik.

“God allows us to experience the low points of life in order to teach us lessons that we could learn in no other way.” – C. S. Lewis

Transisi. Berproses. Jalani. Berkali-kali saya harus ingatkan diri sendiri mengenai proses, kesetiaan pada perkara kecil sebelum diberi perkara besar. Karakter mendahului penghargaan. Manfaat mendahului popularitas. Tumbuh mendahului penghormatan.

To my Depression,

But I know that I’ll be happier
And I know you will, too
Said, I know that I’ll be happier
And I know you will, too

Eventually
Eventually

— Eventually, Tame Impala

Saya pulang. Saya siap kembali berbagi.

2:44, 5 Juni 2017

Kebebasan

Penuh dengan banyak hal, saya mencoba mengurai kusut benang-benang yang ingin saling mendahului dalam tangga prioritas di kepala saya, ya kita sebut saja kumpulan ini dengan sebutan: namanya-juga-hidup. Sekian bulan saya tidak komentar, karena berdebat dengan orang bodoh hanya membuktikan ada dua orang bodoh dalam debat itu, kata seorang filsuf. Saya kembali berusaha mencari, apa itu kebenaran. Nyatanya, dalam praktik kehidupan, semua golongan mengklaim kebenaran, padahal tidak mungkin ada dua kebenaran yang bertolak belakang. Antara salah satunya benar, atau keduanya salah.

Jawaban. Saya pikir itu (ilmu) yang dibutuhkan untuk membuang tendesi salah sangka, menjernihkan pikiran sebelum mencapai konklusi, atau dengan kata lain meningkatkan level kebijaksanaan. Ini membuat saya meredupkan komentar-komentar nyelekit yang tidak jarang melukai orang atau grup tertentu.

Kesalahan saya yang terbesar adalah, menganggap orang lain melakukan hal yang sama. Ketika saya diam, mencari pengertian, saya kira orang lain melakukan hal yang sama. Ketika saya menolak masuk ke debat kusir dan saling melukai relasi, saya kira orang lain melakukan hal yang sama. Juga ketika saya mengumpulkan data dan kebenaran yang teruji, ketika saya berusaha mati-matian memperjuangkan itu untuk kebaikan banyak orang, saya kira mereka akan melakukan hal yang sama, dan sama-sama mengerti.

Beberapa orang (mungkin banyak) yang terluka dengan perkataan, sikap, dan tindakan saya karena perbedaan kutub dalam menilik kebenaran. Seperti yang sudah saya sebutkan, tidak mungkin ada dua kebenaran yang bertolak belakang. Saya putuskan untuk berjuang, apakah saya merasa paling benar? Tidak juga, namun saya berprinsip harus perjuangkan yang menurut nurani saya benar. Jika kutub seberang lebih benar, kita buktikan di arena yang tepat, dengan gagasan dan landasan yang tepat juga. Jika di awal saya sebutkan sekian bulan saya tidak berkomentar, ada beberapa hal yang saya diamkan beberapa tahun, karena saya tidak mau ngotot membuktikan saya benar, tapi mengorbankan relasi. Imbalan yang tidak sepadan. Saya kira mereka melakukan hal yang sama, tapi ternyata mereka meracuni orang sekitar dengan membentuk opini yang tidak benar dan penuh prasangka tak berdasar.

Kecenderungan saya untuk diam, sarkastik, membuat plot untuk mempermalukan di depan umum, tidak komunikatif, itu semua keburukan yang saya sadari, saya pahami, dan terus saya perbaiki. Jika anda termasuk orang yang saya sakiti, saya akan menyampaikan permohonan maaf, karena menjadi sebuah kemunafikan jika saya berkata saya ingin. Sebelum itu, saya akan katakan beberapa hal.

Pertama, mengutip Anais Nin; we don’t see things as they are, we see things as we are.

Jika kacamata prasangka, asosiasi golongan yang sejalan dengan anda, asosiasi saya dengan golongan yang berseberangan dengan anda, kebenaran relatif yang sudah anda klaim dengan confirmation bias, strawman, tanpa landasan logika dan argumen yang jelas, dan anda tetap mendapati saya bersalah, curang, menyalahi aturan, saya minta maaf.

Kedua, salah satu teman saya pernah berkata: if a person said we hurt him/her, we don’t get to choose to say that we didn’t. Respons kita menentukan apa yang mengalir dari hati kita. Saya memilih untuk menghargai perasaan orang yang lain yang terluka karena saya walaupun menurut logika saya, belum tentu itu karena saya. Jadi jika timbul perasaan sakit hati karena saya, saya minta maaf.

Ketiga, saya ingin sampaikan opini praktis saya hal yang berkaitan dengan yang kedua. Jika saya merasa seseorang menyakiti saya, benarkah orang itu yang menyakiti saya, atau ketidaksesuaian dengan persepsi (ilusi) saya yang membuat saya sakit hati? Sudahkah saya periksa kebenaran yang hati saya sendiri rasakan sebelum mengatakan orang tersebut yang menyakiti saya?

Jika setelah berpikir jernih tanpa cacat logika selayaknya manusia berpendidikan, sudah mencari kebenaran, tanpa embel-embel asosiasi bizarre, prasangka, saya memang menyakiti anda, saya minta maaf.

Jangan sampai, kebebasan kita dalam berperasaan membuat diri kita hipersensitif terhadap kebebasan orang lain. Kebebasan yang sesungguhnya, adalah kebebasan yang dibatasi oleh kebebasan orang lain. Jika kebebasan kita membelenggu kebebasan orang lain, menyalahkan orang tersebut karena mengganggu kebebasan kita, kemudian kita berteriak ke seluruh dunia bagaimana orang itu mencederai kebebasan, itu bukan kebebasan, tapi kebangsatan.

Saya tidak perlu minta maaf untuk yang terakhir, kan?

Choice

I woke up at 11.00 am despite 7.30 am alarm.

Shimmering lights dancing upon my eyelids, apparently too thin to hold the sun’s diffused light. I rubbed my face against my pillow, pulled my knees onto my chest, wishing fetal position would send my conscience back to dreamland 5 minutes more. I chose not to have my cup of coffee that day though. My palate refused anything I put on my tongue lately.

I didn’t see my cat that morning, maybe they are visiting neighbour’s yard. They kind of adopt human’s tendecy toward their environment; ambience-seeker, calm-craving, self-centered creature. As one of my fellow said, routine is like a rust. Well, maybe these feline understand it better.

What’s the agenda today, Self? Nothing? Oh. I thought we have 14 lines on our weekly agenda? Nada? Not today?

It was a choice. It was my choice.
Woke up. Snoozed. Morning pray. Cold shower.

I made thousands of choices everyday I may not aware. Only one or two per day had perfectly imprinted in my memory; “this one is an important decision”, I told myself.

I hardly remember, if not recall, what kind of mornings I had. What kind of ritual I developed, what kind of stability “My Days” were proposing to “My Weeks”. What kind of hurricane-triggering-habits that I constantly feed my mood.

That noon my cervical spine aching. No surprise, since it bore the weight of all my unnecessary questions, some of them translated into this pointless writing.

I think I deserved the ache.

“Mendingan gue vape daripada ngerokok.

Globular Health initiative

“Mendingan gue vape daripada ngerokok.”

“Mendingan gue vape daripada ngerokok,” benarkah lebih baik vape daripada rokok? Beberapa dari teman saya yang tadinya antirokok pun, akhirnya memutuskan untuk vaping. Glamor iklan-iklan maupun standar kekinian yang selalu mengikuti tren tidak luput menginklusi rokok elektrik, atau e-cigarettes, vaporizer.Vaping, lebih sering didengar sebagai kosakata untuk menyebutnya di masyarakat.

Vape merupakan e-cigarettes generasi ketiga, dengan generasi pertama yang berbentuk seperti rokok (cigalike), generasi kedua dengan bentuk pena atau obeng dengan katrid (cartridge) dan kapasitas baterai yang lebih besar, dan sekarang muncul vape sebagai generasi ketiga dengan menggunakan sistem tangki dan mudah dimodifikasi. Popularitas vape memang sedang melonjak tinggi lantaran modifikasi yang bisa dilakukan sangat bervariasi dan maraknya penjualan online semakin memudahkan orang untuk mendapatkan produk-produk vape.

Produk vape mengandung beberapa senyawa, salah satunya nikotin, sebagaimana terdapat pada rokok konvensional, yang merupakan zat yang menimbulkan adiksi…

Lihat pos aslinya 714 kata lagi

A Prince in a Republic

​#SelesaiBaca | A Prince in a Republic

Sultan HBIX mulai dikenal sejak masa studinya di Universitas Leiden karena keaktifan organisasinya. Mengirimkan Dorojatun (nama panggilan Sultan HBIX) ke Barat untuk studi merupakan strategi Sultan HBVIII untuk membiasakan anak-anaknya dengan lingkungan, kultur, dan kehidupan intelektual di Barat. Hal ini umum dilakukan oleh keluarga sultan pada tahun 1900an, termasuk Sunan Solo, Sunan Mangkunegara dan Pakualam.
Keaktifannya di lembaga mahasiswa Leiden membuat Minister Welter “full of praise for R M Dorojatun” dan membuat nama Dorojatun melejit “because he seemed the kind of Western-oriented prince.”
Saat Sultan HBIX diangkat menjadi Sultan, tanggal 18 Maret 1940, yang artinya Yogyakarta masih berada di bawah jajahan Belanda. Governer Adam (Belanda) menambahkan “You have had, I believe, no reason to complain about my good faith,” yang kemudian ditanggapi oleh pernyataan Sultan HBIX: Al heb ik een uitgesproken Westerse opvoeding gehad, toch ben ik en bliff ik ej de allereerste plats Javaan.” Dengan kata lain, “I have had an extensive Western upbringing, yet I am and remain above all a Javanese.” Pernyataan singkat yang mengundang beberapa interpretasi, misalnya apakah ini pernyataan nasionalisme atau Sultan hanya memikirkan Yogyakarta? Sultan hanya menyebut dirinya Javanese, bukan Indonesian. Strategi yang menarik.
Lalu saat kemerdekaan terjadi, HB IX punya pilihan: menolak Republik dan beraliansi dengan Belanda, deklarasi Yogyakarta sebagai daerah independen, /wait and see/, deklarasi dukungan untuk Republik dan merelakan Kesultanannya, atau opsi terakhir (yang akhirnya beliau pilih) mendukung Republik dan mempertahankan Kesultanan. Keputusan Sultan HBIX ini asal usul Yogyakarta disebut sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta. Taktis.
Perjuangan tidak berhenti sampai di sana, banyak gejolak setelah deklarasi kemerdekaan. Namun ada satu bagian yang menurut saya pemikiran Sultan HBIX relevan dipelajari untuk diterapkan sekarang. Ketika ditanya adanya kemungkinan revolusi sosial di Jawa seperti di Sumatra, Sultan menjawab perilaku seperti itu tidak mungkin terjadi di Yogyakarta. Tapi jika “revolusi sosial” yang dimaksud adalah terciptanya daerah modern, eliminasi iliterasi dan peningkatan taraf hidup sosial, ini adalah tujuan Republik yang mendapat dukungan Sultan sepenuhnya.
Testimoni dari P.J.A. Idenburg tentanf Sultan HBIX: HBIX as a high calibre Javanese prince who had managed to maintain his standing even in the difficult Japanese period and had shown a keen appreciation of the new circumstances. HBIX has endless patience and is not a figure who would act in a spontaneous and unprepared manner when the aims of the action are not assured.
Tokoh Indonesia yang paling saya kagumi sampai saat ini, dan buku ini paling komprehensif menceritakan setiap detail perjalanan hidup beliau. 👌

Peter’s Doubt

Peter’s Doubt

2016 is a road.

There is no starting point, it is simply connected with the previous year, but ended somewhere. Right now. I was sitting with a random, thoughtless, not-so-cool pose after my sister hustle me. I guess it’s a normal request cause Sumba cars may take turns to run all over my body. As you can see, I seized the moment and pose effortlessly. We laughed off that picture, and sure it leaves a warm memory. I have a faith that my sister will notice what’s behind me, be it a car, a motorcycle, or a person. She won’t let them hurt me under her watch.

I picked “I will walk by faith, not by sight” to be my 2016 guidance. I tried to live but I didn’t bear much fruit. I was drowned in a whirpool of my own feelings instead of trusting His promise. As I continuously doubt Jesus and His Plan, I unconsciously walked back to my own mediocrity. I walked by sight. I didn’t trust Jesus like I trust my sister back then on the road. 2016 was definitely ran all over my body.

I (The devil in me) told myself 2017 is just another year. It doesn’t matter. New Year Resolution doesn’t work. Rolf Dobelli, explained it very beautifully in his book why New Year Resolution is just a hype.

However, it is really helpful (for me) to pray and pick one verse/one principality to practice it throughout the year. I felt that if I’m being specific about which spiritual attribute I want to improve, I shall be growing into a more Bible-encompassed person instead of world’s ever-changing standard. Ultimately, as a Christian, being the manifestation of Christ’s love.

Several days ago, God touched my heart when I read a line from Bill Wilson’s book: “everybody wants to walk on water but nobody wants to leave the boat.” Apparently, it’s correlated with Peter’s story. Well, Peter actually left the boat, but he almost drowned when he was terrified, then Jesus said Peter doubt Him (Matthew 14;31) that’s why he drowned.

Then I realized, I repeatedly doubt. I’m a Doubter. I know it sounds like daughter but no, don’t make prove my biological sex.

Bill Wilson said when he came to New York to start Metro Ministries, it took measure faith. But to stay for 28 years, it took extreme faith. To be able to walk on water to come to Jesus, it took extreme faith. To leave to boat? Measure faith!

Do I have the measure faith to leave my boat before I asked Jesus to let me walk on water? Am I going through the process from measure faith to extreme faith by walking with Him?

I have prayed and decided, in 2017, I want to learn to two things: to leave my boat when Jesus said come, banish out doubt & have faith in His supremacy.

Maybe I’ve been asking Jesus for miracles; God, let me walk on water!  Maybe Jesus hasn’t tell me to come? or maybe Jesus already told me to come, but my doubt drowns me? Or am I still on my boat?!

I drowned so many times in 2016, but He always immediately reached out and grabbed me. In 2017, I will conquer my fear to leave my boat. I will walk on water, through the wind and storms, without doubt.

Then Peter called to Him, “Lord, if it’s really you, tell me to come to you, walking on the water.” “Yes, come,” Jesus said. So Peter went over the side of the boat and walked on the water toward Jesus. But when he saw the strong wind and the waves, he was terrified and began to sink. “Save me, Lord!” he shouted. Jesus immediately reached out and grabbed him. “You have so little faith,” Jesus said. “Why did you doubt me?

Matthew 14:28‭-‬31 NLT

Failure

I failed again.

In my loneliest nights, those sticky shadows creeps in. They cloud me from God’s limitless grace. Blind and deaf. I failed again.

The corner of my room is the warmest cliff I have ever visited. Gallant and deafening wind became my comfort. O darkness I fell, indulge me in the blankest sheet you proposed. Unveil the beast of my past, time-traveler. I long for the relativity of time. Instruct me with your deepest tangled-thoughts. We shall be exiled far from exaltation’s horizon. We will tend our bleeding wound with salted sin.

That night.. is a portrait of my dismembered mind and heart; savagely ripped from common sense.

They call me headstrong. Extrapolation of utopian-but-harmonised answer leads to it, maybe. They chose to see me as idealist instead of delusional. Occasionally, world pissed me off, but my head never accepted its slightest ridicule. Bandaged in dream and nobel goal, I forced my way. Somehow I get away with it for almost 20 years.

Until one stomp of hard rejection, I’m on a slippery slope of failure. The fall of confidence, chronic & progressive solitary bubble, extreme touchy-feely, fear in a form of perfectionism, all wrapped up in a society-familiar term: introvert.

The misconception about introvert “doesn’t enjoy social event” and the uprising popularity of MBTI and Jungian Typology colored the years of my truth-seeking mind. The madness going over to divide people into extrovert and introvert, in order to pseudoanalyst their traits and justify their misbehavior added up a pressure on my back.

“They don’t understand.”

I embraced the glorious serenity of “me time”. It helped me harnest ideas from my head. Some, if not most, do experienced the same thing, they maximized their depression as a channel to liquidify and boil their works. I kinda like the word “saturation” to explain this phenomenon, in a way it is aligned with “no art is born without sadness” said by one of an artist.

Nothing’s wrong, really. Everything flows with its constantly changing current. Nothing, until it bumped my threshold and causing explosion here and there. Mood swing, broad range of emotion in a matter of seconds, so-called laziness, not-typical-INFP kind of mess. It rusted my dream, decayed by time. Dragged from among the stars, speared into graveyard’s door.

I failed again.

The constant back and forth between Future and Past was (maybe, and is) the theme of my head’s timeline. Burned everything in between.

I never lived.
I am an insignificant dust in Chrono’s world. Bouncing between two polars powered by trauma and dream.

In the end, I managed to finish my study; medicine.

The end of one hell of a phase. This should be my turning. This should be the exact one point where change is inevitable. Knowledge may be the key, but it always changes and I need a perfect ground to stand tall.

I should be over but limitless grace sustains. I need to find a rock to balance my failure, to appreciate and not to underestimate the weight of it brings.

I should look up and climb. I should look down and thank.
I should move forward, and try leave my past with peace.

I must learn to cast the mantra more often: I am ultimately weak but His grace made perfect in it.

December 25th, 2016.

Happy Born Day, Christ the Messiah.
You are, indeed, Prince of Peace.