Kebebasan

Penuh dengan banyak hal, saya mencoba mengurai kusut benang-benang yang ingin saling mendahului dalam tangga prioritas di kepala saya, ya kita sebut saja kumpulan ini dengan sebutan: namanya-juga-hidup. Sekian bulan saya tidak komentar, karena berdebat dengan orang bodoh hanya membuktikan ada dua orang bodoh dalam debat itu, kata seorang filsuf. Saya kembali berusaha mencari, apa itu kebenaran. Nyatanya, dalam praktik kehidupan, semua golongan mengklaim kebenaran, padahal tidak mungkin ada dua kebenaran yang bertolak belakang. Antara salah satunya benar, atau keduanya salah.

Jawaban. Saya pikir itu (ilmu) yang dibutuhkan untuk membuang tendesi salah sangka, menjernihkan pikiran sebelum mencapai konklusi, atau dengan kata lain meningkatkan level kebijaksanaan. Ini membuat saya meredupkan komentar-komentar nyelekit yang tidak jarang melukai orang atau grup tertentu.

Kesalahan saya yang terbesar adalah, menganggap orang lain melakukan hal yang sama. Ketika saya diam, mencari pengertian, saya kira orang lain melakukan hal yang sama. Ketika saya menolak masuk ke debat kusir dan saling melukai relasi, saya kira orang lain melakukan hal yang sama. Juga ketika saya mengumpulkan data dan kebenaran yang teruji, ketika saya berusaha mati-matian memperjuangkan itu untuk kebaikan banyak orang, saya kira mereka akan melakukan hal yang sama, dan sama-sama mengerti.

Beberapa orang (mungkin banyak) yang terluka dengan perkataan, sikap, dan tindakan saya karena perbedaan kutub dalam menilik kebenaran. Seperti yang sudah saya sebutkan, tidak mungkin ada dua kebenaran yang bertolak belakang. Saya putuskan untuk berjuang, apakah saya merasa paling benar? Tidak juga, namun saya berprinsip harus perjuangkan yang menurut nurani saya benar. Jika kutub seberang lebih benar, kita buktikan di arena yang tepat, dengan gagasan dan landasan yang tepat juga. Jika di awal saya sebutkan sekian bulan saya tidak berkomentar, ada beberapa hal yang saya diamkan beberapa tahun, karena saya tidak mau ngotot membuktikan saya benar, tapi mengorbankan relasi. Imbalan yang tidak sepadan. Saya kira mereka melakukan hal yang sama, tapi ternyata mereka meracuni orang sekitar dengan membentuk opini yang tidak benar dan penuh prasangka tak berdasar.

Kecenderungan saya untuk diam, sarkastik, membuat plot untuk mempermalukan di depan umum, tidak komunikatif, itu semua keburukan yang saya sadari, saya pahami, dan terus saya perbaiki. Jika anda termasuk orang yang saya sakiti, saya akan menyampaikan permohonan maaf, karena menjadi sebuah kemunafikan jika saya berkata saya ingin. Sebelum itu, saya akan katakan beberapa hal.

Pertama, mengutip Anais Nin; we don’t see things as they are, we see things as we are.

Jika kacamata prasangka, asosiasi golongan yang sejalan dengan anda, asosiasi saya dengan golongan yang berseberangan dengan anda, kebenaran relatif yang sudah anda klaim dengan confirmation bias, strawman, tanpa landasan logika dan argumen yang jelas, dan anda tetap mendapati saya bersalah, curang, menyalahi aturan, saya minta maaf.

Kedua, salah satu teman saya pernah berkata: if a person said we hurt him/her, we don’t get to choose to say that we didn’t. Respons kita menentukan apa yang mengalir dari hati kita. Saya memilih untuk menghargai perasaan orang yang lain yang terluka karena saya walaupun menurut logika saya, belum tentu itu karena saya. Jadi jika timbul perasaan sakit hati karena saya, saya minta maaf.

Ketiga, saya ingin sampaikan opini praktis saya hal yang berkaitan dengan yang kedua. Jika saya merasa seseorang menyakiti saya, benarkah orang itu yang menyakiti saya, atau ketidaksesuaian dengan persepsi (ilusi) saya yang membuat saya sakit hati? Sudahkah saya periksa kebenaran yang hati saya sendiri rasakan sebelum mengatakan orang tersebut yang menyakiti saya?

Jika setelah berpikir jernih tanpa cacat logika selayaknya manusia berpendidikan, sudah mencari kebenaran, tanpa embel-embel asosiasi bizarre, prasangka, saya memang menyakiti anda, saya minta maaf.

Jangan sampai, kebebasan kita dalam berperasaan membuat diri kita hipersensitif terhadap kebebasan orang lain. Kebebasan yang sesungguhnya, adalah kebebasan yang dibatasi oleh kebebasan orang lain. Jika kebebasan kita membelenggu kebebasan orang lain, menyalahkan orang tersebut karena mengganggu kebebasan kita, kemudian kita berteriak ke seluruh dunia bagaimana orang itu mencederai kebebasan, itu bukan kebebasan, tapi kebangsatan.

Saya tidak perlu minta maaf untuk yang terakhir, kan?

Advertisements

Choice

I woke up at 11.00 am despite 7.30 am alarm.

Shimmering lights dancing upon my eyelids, apparently too thin to hold the sun’s diffused light. I rubbed my face against my pillow, pulled my knees onto my chest, wishing fetal position would send my conscience back to dreamland 5 minutes more. I chose not to have my cup of coffee that day though. My palate refused anything I put on my tongue lately.

I didn’t see my cat that morning, maybe they are visiting neighbour’s yard. They kind of adopt human’s tendecy toward their environment; ambience-seeker, calm-craving, self-centered creature. As one of my fellow said, routine is like a rust. Well, maybe these feline understand it better.

What’s the agenda today, Self? Nothing? Oh. I thought we have 14 lines on our weekly agenda? Nada? Not today?

It was a choice. It was my choice.
Woke up. Snoozed. Morning pray. Cold shower.

I made thousands of choices everyday I may not aware. Only one or two per day had perfectly imprinted in my memory; “this one is an important decision”, I told myself.

I hardly remember, if not recall, what kind of mornings I had. What kind of ritual I developed, what kind of stability “My Days” were proposing to “My Weeks”. What kind of hurricane-triggering-habits that I constantly feed my mood.

That noon my cervical spine aching. No surprise, since it bore the weight of all my unnecessary questions, some of them translated into this pointless writing.

I think I deserved the ache.

“Mendingan gue vape daripada ngerokok.

Globular Health initiative

“Mendingan gue vape daripada ngerokok.”

“Mendingan gue vape daripada ngerokok,” benarkah lebih baik vape daripada rokok? Beberapa dari teman saya yang tadinya antirokok pun, akhirnya memutuskan untuk vaping. Glamor iklan-iklan maupun standar kekinian yang selalu mengikuti tren tidak luput menginklusi rokok elektrik, atau e-cigarettes, vaporizer.Vaping, lebih sering didengar sebagai kosakata untuk menyebutnya di masyarakat.

Vape merupakan e-cigarettes generasi ketiga, dengan generasi pertama yang berbentuk seperti rokok (cigalike), generasi kedua dengan bentuk pena atau obeng dengan katrid (cartridge) dan kapasitas baterai yang lebih besar, dan sekarang muncul vape sebagai generasi ketiga dengan menggunakan sistem tangki dan mudah dimodifikasi. Popularitas vape memang sedang melonjak tinggi lantaran modifikasi yang bisa dilakukan sangat bervariasi dan maraknya penjualan online semakin memudahkan orang untuk mendapatkan produk-produk vape.

Produk vape mengandung beberapa senyawa, salah satunya nikotin, sebagaimana terdapat pada rokok konvensional, yang merupakan zat yang menimbulkan adiksi…

View original post 714 more words

A Prince in a Republic

​#SelesaiBaca | A Prince in a Republic

Sultan HBIX mulai dikenal sejak masa studinya di Universitas Leiden karena keaktifan organisasinya. Mengirimkan Dorojatun (nama panggilan Sultan HBIX) ke Barat untuk studi merupakan strategi Sultan HBVIII untuk membiasakan anak-anaknya dengan lingkungan, kultur, dan kehidupan intelektual di Barat. Hal ini umum dilakukan oleh keluarga sultan pada tahun 1900an, termasuk Sunan Solo, Sunan Mangkunegara dan Pakualam.
Keaktifannya di lembaga mahasiswa Leiden membuat Minister Welter “full of praise for R M Dorojatun” dan membuat nama Dorojatun melejit “because he seemed the kind of Western-oriented prince.”
Saat Sultan HBIX diangkat menjadi Sultan, tanggal 18 Maret 1940, yang artinya Yogyakarta masih berada di bawah jajahan Belanda. Governer Adam (Belanda) menambahkan “You have had, I believe, no reason to complain about my good faith,” yang kemudian ditanggapi oleh pernyataan Sultan HBIX: Al heb ik een uitgesproken Westerse opvoeding gehad, toch ben ik en bliff ik ej de allereerste plats Javaan.” Dengan kata lain, “I have had an extensive Western upbringing, yet I am and remain above all a Javanese.” Pernyataan singkat yang mengundang beberapa interpretasi, misalnya apakah ini pernyataan nasionalisme atau Sultan hanya memikirkan Yogyakarta? Sultan hanya menyebut dirinya Javanese, bukan Indonesian. Strategi yang menarik.
Lalu saat kemerdekaan terjadi, HB IX punya pilihan: menolak Republik dan beraliansi dengan Belanda, deklarasi Yogyakarta sebagai daerah independen, /wait and see/, deklarasi dukungan untuk Republik dan merelakan Kesultanannya, atau opsi terakhir (yang akhirnya beliau pilih) mendukung Republik dan mempertahankan Kesultanan. Keputusan Sultan HBIX ini asal usul Yogyakarta disebut sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta. Taktis.
Perjuangan tidak berhenti sampai di sana, banyak gejolak setelah deklarasi kemerdekaan. Namun ada satu bagian yang menurut saya pemikiran Sultan HBIX relevan dipelajari untuk diterapkan sekarang. Ketika ditanya adanya kemungkinan revolusi sosial di Jawa seperti di Sumatra, Sultan menjawab perilaku seperti itu tidak mungkin terjadi di Yogyakarta. Tapi jika “revolusi sosial” yang dimaksud adalah terciptanya daerah modern, eliminasi iliterasi dan peningkatan taraf hidup sosial, ini adalah tujuan Republik yang mendapat dukungan Sultan sepenuhnya.
Testimoni dari P.J.A. Idenburg tentanf Sultan HBIX: HBIX as a high calibre Javanese prince who had managed to maintain his standing even in the difficult Japanese period and had shown a keen appreciation of the new circumstances. HBIX has endless patience and is not a figure who would act in a spontaneous and unprepared manner when the aims of the action are not assured.
Tokoh Indonesia yang paling saya kagumi sampai saat ini, dan buku ini paling komprehensif menceritakan setiap detail perjalanan hidup beliau. 👌

Peter’s Doubt

Peter’s Doubt

2016 is a road.

There is no starting point, it is simply connected with the previous year, but ended somewhere. Right now. I was sitting with a random, thoughtless, not-so-cool pose after my sister hustle me. I guess it’s a normal request cause Sumba cars may take turns to run all over my body. As you can see, I seized the moment and pose effortlessly. We laughed off that picture, and sure it leaves a warm memory. I have a faith that my sister will notice what’s behind me, be it a car, a motorcycle, or a person. She won’t let them hurt me under her watch.

I picked “I will walk by faith, not by sight” to be my 2016 guidance. I tried to live but I didn’t bear much fruit. I was drowned in a whirpool of my own feelings instead of trusting His promise. As I continuously doubt Jesus and His Plan, I unconsciously walked back to my own mediocrity. I walked by sight. I didn’t trust Jesus like I trust my sister back then on the road. 2016 was definitely ran all over my body.

I (The devil in me) told myself 2017 is just another year. It doesn’t matter. New Year Resolution doesn’t work. Rolf Dobelli, explained it very beautifully in his book why New Year Resolution is just a hype.

However, it is really helpful (for me) to pray and pick one verse/one principality to practice it throughout the year. I felt that if I’m being specific about which spiritual attribute I want to improve, I shall be growing into a more Bible-encompassed person instead of world’s ever-changing standard. Ultimately, as a Christian, being the manifestation of Christ’s love.

Several days ago, God touched my heart when I read a line from Bill Wilson’s book: “everybody wants to walk on water but nobody wants to leave the boat.” Apparently, it’s correlated with Peter’s story. Well, Peter actually left the boat, but he almost drowned when he was terrified, then Jesus said Peter doubt Him (Matthew 14;31) that’s why he drowned.

Then I realized, I repeatedly doubt. I’m a Doubter. I know it sounds like daughter but no, don’t make prove my biological sex.

Bill Wilson said when he came to New York to start Metro Ministries, it took measure faith. But to stay for 28 years, it took extreme faith. To be able to walk on water to come to Jesus, it took extreme faith. To leave to boat? Measure faith!

Do I have the measure faith to leave my boat before I asked Jesus to let me walk on water? Am I going through the process from measure faith to extreme faith by walking with Him?

I have prayed and decided, in 2017, I want to learn to two things: to leave my boat when Jesus said come, banish out doubt & have faith in His supremacy.

Maybe I’ve been asking Jesus for miracles; God, let me walk on water!  Maybe Jesus hasn’t tell me to come? or maybe Jesus already told me to come, but my doubt drowns me? Or am I still on my boat?!

I drowned so many times in 2016, but He always immediately reached out and grabbed me. In 2017, I will conquer my fear to leave my boat. I will walk on water, through the wind and storms, without doubt.

Then Peter called to Him, “Lord, if it’s really you, tell me to come to you, walking on the water.” “Yes, come,” Jesus said. So Peter went over the side of the boat and walked on the water toward Jesus. But when he saw the strong wind and the waves, he was terrified and began to sink. “Save me, Lord!” he shouted. Jesus immediately reached out and grabbed him. “You have so little faith,” Jesus said. “Why did you doubt me?

Matthew 14:28‭-‬31 NLT

Failure

I failed again.

In my loneliest nights, those sticky shadows creeps in. They cloud me from God’s limitless grace. Blind and deaf. I failed again.

The corner of my room is the warmest cliff I have ever visited. Gallant and deafening wind became my comfort. O darkness I fell, indulge me in the blankest sheet you proposed. Unveil the beast of my past, time-traveler. I long for the relativity of time. Instruct me with your deepest tangled-thoughts. We shall be exiled far from exaltation’s horizon. We will tend our bleeding wound with salted sin.

That night.. is a portrait of my dismembered mind and heart; savagely ripped from common sense.

They call me headstrong. Extrapolation of utopian-but-harmonised answer leads to it, maybe. They chose to see me as idealist instead of delusional. Occasionally, world pissed me off, but my head never accepted its slightest ridicule. Bandaged in dream and nobel goal, I forced my way. Somehow I get away with it for almost 20 years.

Until one stomp of hard rejection, I’m on a slippery slope of failure. The fall of confidence, chronic & progressive solitary bubble, extreme touchy-feely, fear in a form of perfectionism, all wrapped up in a society-familiar term: introvert.

The misconception about introvert “doesn’t enjoy social event” and the uprising popularity of MBTI and Jungian Typology colored the years of my truth-seeking mind. The madness going over to divide people into extrovert and introvert, in order to pseudoanalyst their traits and justify their misbehavior added up a pressure on my back.

“They don’t understand.”

I embraced the glorious serenity of “me time”. It helped me harnest ideas from my head. Some, if not most, do experienced the same thing, they maximized their depression as a channel to liquidify and boil their works. I kinda like the word “saturation” to explain this phenomenon, in a way it is aligned with “no art is born without sadness” said by one of an artist.

Nothing’s wrong, really. Everything flows with its constantly changing current. Nothing, until it bumped my threshold and causing explosion here and there. Mood swing, broad range of emotion in a matter of seconds, so-called laziness, not-typical-INFP kind of mess. It rusted my dream, decayed by time. Dragged from among the stars, speared into graveyard’s door.

I failed again.

The constant back and forth between Future and Past was (maybe, and is) the theme of my head’s timeline. Burned everything in between.

I never lived.
I am an insignificant dust in Chrono’s world. Bouncing between two polars powered by trauma and dream.

In the end, I managed to finish my study; medicine.

The end of one hell of a phase. This should be my turning. This should be the exact one point where change is inevitable. Knowledge may be the key, but it always changes and I need a perfect ground to stand tall.

I should be over but limitless grace sustains. I need to find a rock to balance my failure, to appreciate and not to underestimate the weight of it brings.

I should look up and climb. I should look down and thank.
I should move forward, and try leave my past with peace.

I must learn to cast the mantra more often: I am ultimately weak but His grace made perfect in it.

December 25th, 2016.

Happy Born Day, Christ the Messiah.
You are, indeed, Prince of Peace.

Akhirnya selesai

Akhirnya selesai

Frase yang sudah lama ingin saya tulis: akhirnya selesai.

Menarik, frase “akhirnya selesai” ini saya tulis di Kota Pelajar. Apa coba maksudnya Tuhan? Selesai jadi pelajar kah? Semoga bukan ini yang akan terjadi. Guru saya pernah bilang, hari dimana kamu berhenti jadi pelajar, kamu berhenti hidup. Yak, saya belum mau mati dulu sih pak. Jadi saya tetap menyandang status pelajar, walaupun pelajaran kali ini berakhir di Kota Pelajar. Ehe. Saya mau berbagi sedikit pengalaman singkat, dari beberapa kejadian yang berkesan selama fase perkoasan ini. Untuk yang juga selesai, high five! Untuk yang sedang menjalani, selamat membaca walaupun sambil jaga malam hehe.

Masa panjang yang menjadikan saya makhluk soliter, reaktif, emosional, budak kafein, dan segala kehinaan lainnya, akhirnya berakhir. Mungkin yang paling tepat menggambarkan masa ini adalah: keras. Bahasa yang mungkin tidak asing, tapi tetap saja sakit kepala kalau diingat-ingat perjalanannya. Saya yang tidak pernah mau sadar (denial) betapa saya keras kepala, berapa kali pun orang berkata saya ini keras kepala, akhirnya kena batunya. Saya dibenturkan sekeras-kerasnya di fase ini, akhirnya ya pecah. Ga ada pilihan lain selain pecah kalau dua benda keras dibenturkan berulang-ulang. Koasnya sih tidak pecah, dia akan selalu seperti itu, saya yang pecah. Berkeping-keping.

 

Krisis identitas, krisis harga diri, dan malu. Itu tiga hal paling membekas secara umum. Sekali waktu saat itu saya menjalani stase OBGYN. Untuk kalian yang mengernyitkan dahi, menghela napas, atau tersenyum setelah membaca OBGYN, I feel you bro. Ini stase mayor ketiga berturut-turut (iya ga salah baca, berturut-turut) setelah Bedah dan Anak. Ada satu hal yang saya ingat betul di stase ini.

Dengan kelelahan maligna saya jalani Obgyn, saya sekelompok lagi nunggu konsulen visit di bangsal. Kebetulan ada ruangan untuk perawat dan bidan makan, kosong, jadilah kami nunggu di sana. Saya ke Nurse Station mau pinjam remote AC. Kepala Bidan bilang: Gak. Boleh.

Saya tanya kenapa kok ga boleh. Dia jawab: Ngapain nyalain AC boros listrik ah. Di situ kan GAK ADA ORANG.

WHAT?! LU GA LIAT KITA SEMUA DI SANA DARITADI? LAGIAN EMANG LU YANG BAYAR LISTRIK?

Buset dah.

Akhirnya ya udah, anggep aja matanya kelilipan mekonium dan ketuban ibu-ibu KPD tadi malam. :”)

Sepengelaman saya, hampir 70% lah tekanan koas ada di tempat dan orang-orang yang terlibat menangani pasien, bukan pasiennya. Oke lah kalau pasien sulit penangannya juga sulit, belum lagi mau tiap konsulen beda karena mereka sekolah spesialis di tempat yang berbeda juga.

The pressure is real. Saya termasuk orang yang cukup lihai manajemen waktu dan prioritas. Tapi di koas, GILA. Ternyata manajemen energi itu jauh lebih penting dari dua itu. Percuma ada waktu kalau ga ada tenaga. Percuma depan kita buku dan kita ada waktu belajar, kalau sepanjang waktu kosong itu mata minta merem terus. Ini waktunya dimana badan kita akan berontak. Penting banget buat jaga kondisi fisik. Salahnya saya adalah saya mendewakan tidur dan ga olah raga. Tanpa olah raga, bakalan ngantuk terus.

Weekend itu saya pulang ke rumah. Saya cerita sama Papa saya.

“Pa, capek koas. Kenapa orang memperlakukan koas seenaknya. Saya kan juga capek, saya juga mau belajar, tapi selalu dimarahin tanpa alesan yang jelas, udah gitu ga diajarin! Rasanya mau berenti koas aja Pa, kerja yang lain. Udah ga minat jadi dokter. Munafik dunia medis.”

(Papa ketawa kecil, Mama dateng, pura-pura nonton)

“Van, hidup ya emang begitu. Ada 3 fase dalam hidup: saat kamu umur 0-20 tahun ini saatnya kamu bertumbuh dan belajar. Umur 20-60 tahun ini, yang lagi kamu jalanin, waktunya mengenal dunia dan membangun karir. Umur 60 tahun ke atas ya tinggal nikmati hidup aja sama anak cucu kamu. Kamu berapa lama ketemu orang ini? 2,5 bulan kan? Terus kamu mau biarkan orang yang cuma liat kamu 2,5 bulan hancurin karir kamu yang masih 40 tahun lebih?

Fase jahanam ini menjadi momen saya belajar 1 hal penting dari Papa. Semenjak itu, setiap mengalami hal serupa di koas, saya tahan diri dengan ngingat pertanyaan ini. Pertanyaan loh ya, bukan pesan. Ini 1 hal yang saya suka dari Papa saya, tidak pernah ada pemaksaan yang tidak perlu. Saya bisa saja hancurin karir saya kalau saya mau berontak, tapi sampai akhir ini, saya bisa menahan diri. Thank you, Paps.

Pernah juga Stase Bedah, mayor pertama. Hari kedua, saya ditanya 1-on-1 sama Konsulen mengenai pasien yang saya follow up. Beliau nanya anamnesis dan pemeriksaan fisik apa yang saya harus tanya dan periksa kalau pasien dengan tumor payudara, intinya saya salah, ngaco, dikoresi Konsulen, terus saya (dengan bodohnya) bilang “Tapi hasil Patologi Anatominya dok..” beliau langsung marah, gebrak meja, saya diteriaki ng*n**t, kunyuk, goblok. Lemes gemeteran seharian. Hari ini selesai semua pembedahan jam 1 malam, tapi diajak konsulen lainnya operasi di kota lain, disuruh setirin mobilnya soalnya dia mau istirahat sebelum operasi. Ada 3 operasi soalnya. Ada 3..

Saya sampai kosan jam 6 pagi. Jam 8 sudah harus ke RS lagi. Dan jaga malam. Artinya saya baru pulang besok malam, jam 1 (lagi). Kegilaan ini berlangsung 10 minggu. Saya ngeluh capek, sakit hati dikatain terus, ngantuk, emosional. Rekor saya pernah melek 68 jam. Gila. Di Stase Bedah saya belajar tidur dimana saja dan kapan saja. Tidur saat berdiri pun saya bisa. Tanya partner IPD saya kalau tidak percaya.

Tapi seru sih kalau diinget-inget, karena takut dimarahin dan dikatain akhirnya jadi hyperarousal kalau ada operasi konsulen satu ini. Kegigihan pantengin setiap operasi sampe buru-buru nyontek Google 15 menit sebelum maju asistensi, hal yang paling membekas menurut saya pas minggu terakhir ada operasi tumor payudara, asistensi konsulen yang teriakin saya itu. Gawat iki. Dulu hari kedua diterakin, kasusnya tumor payudara juga. Quick search Google baca-baca dikit, buka status pasien. Hafalin identitas sama riwayat pasien, lalu maju asistensi. Saat operasi, pertanyaan-pertanyaan lumayan bisa kejawab, walaupun tetep aja dikatain goblok (ini termasuk achievement loh cuma dikatain goblok), sampai beliau bisa ngomongin Alkitab dan lainnya, suasana agak santai. Pas dibuka, ternyata ada neovaskularisasi, udah infiltrasi ke pectoralis juga. Yang bikin berkesan bukan akhirnya ngeliat juga kanker yang infiltrasi kesana kesini setelah selama ini cuma teori, tapi yang berkesan waktu konsulen saya nanya: Van, baiknya kita apain nih?

Dok, kan situ operatornya. Saya cuma asisten atuh. Baru sekali liat kanker payudara. Ini pasien sampeyan, kanker pula! Kok jadi saya yang ditanya pendapat duluan. Tapi memang ini pasien yang saya follow up sih, saya ingat kemarin pasien dan keluarga bilang kalau nanti ini ganas, mau diambil aja payudaranya (mastectomy).

Ya udah saya bilang ke konsulen saya: Maaf Dok, kemarin waktu saya follow up suami dan keluarganya sempet bilang kalau ini ganas, mastectomy aja. Menurut saya sih, coba dipastikan lagi aja kali ya dok? Kan informed consent nya bukan mastectomy tadi.

Konsulen: Oh gitu. Ya udah saya keluar dulu ya tanya keluarganya.

Udah gitu aja, beliau lepas sarung tangan, gaun bedah, keluar ngomong sama pasien. Saya ya.. cuma bisa bengong depan payudara.

Cuma satu kali ini, selama koas hampir 2 tahun, saya merasa dihargai sebagai koas. Stase sebelum dan sesudah Bedah, ga ada pendapat saya sebagai koas yang dihargai lebih dari ini. Terima kasih dok. Kerasnya beliau sama koas, tapi lembut luar biasa sama pasien dan keluarga pasien benar-benar membekas. Tarif operasi sama beliau ga pernah jadi masalah. Malah, berkat beliau saya (sempat) berpikir mau jadi dokter bedah.

Pernah juga beliau liat pasien anak (bukan pasien doi), sesek napas dan gelisah terus padahal udah beberapa hari visit bangsal sana kok masih sesek aja. Konsulen nanya ibunya kenapa ini anak nangis terus, terus ibunya bilang ada cairan di paru-parunya. Kemarin udah disedot, tapi masih sesek. Disuruh coba foto lagi sama konsulen. Besoknya, pas lihat foto thoraxnya, penuh cairan. Konsulen saya minta izin coba pungsi cairannya (tanpa dipungut biaya). Pas dipungsi, isinya nanah. Disarankan sama konsulen pasang WSD (water seal drainage) intinya ini prosedur untuk ngeluarin semua cairan tadi supaya anak ini ga sesek lagi. Terus ya udah ditinggal kan pasiennya secara ini bukan pasien beliau.

Besok visit, anak ini masih ada, masih sesek, belum dipasang WSD. Orangtua nya bilang ga punya biaya. Konsulen saya marah, kenapa dibiarin anak ini sesek hanya karena biaya. Beliau langsung telpon ruang operasi, dia bilang mau pinjem ruangan bedah minor. Orangtua nya disuruh beliin selangnya di apotek, Cuma 27.500 saya ingat harganya. “Sisanya biar saya yang urus.” Cito dah semua koas semua langsung baca WSD dan Chylothorax dalam perjalanan ke OK. Akhirnya dipasang WSD, anaknya langsung tenang, bisa tidur. Orang tuanya nunggu di depan jadi kami bisa dengar waktu konsulen bicara sama mereka udah selesai prosedurnya segala macem. Yang kedengeran ya cuma 2: tangisan dan ucapan terima kasih.

Suatu kali saya pernah tanya beliau mengenai ATLS (Advanced Trauma Life Support), di akhir beliau cerita masa dia sekolah spesialis dan subspesialis yang ga bayar sama sekali. Tinggal juga gratis numpang sama tukang loper koran. Guru beliau di sana ngajarin jangan cari uang kalau jadi dokter bedah, biaya operasi itu udah mahal buat pasien. Kasian. Kata doi, gurunya itu sampai meninggal cicilan rumahnya belum selesai. Anak didiknya semua sampai sekarang masih patungan bayarin bantu cicilan itu. Konsulen saya bilang dia menerapkan apa yang diajarkan gurunya. Dan menurut saya, selama jadi koas dia, memang dia sederhana. Mobilnya cuma Vios. Padahal beliau bilang dari muda dia pengen punya mobil (saya lupa namanya apa) harganya 700 jutaan. Pas ada duitnya, dia berpikir mobil itu fungsinya sama berapapun harganya, ga usah lah mahal-mahal sayang uangnya. Sederhana aja. Jadilah Vios. Sisanya? Dipake buat hobinya, mancing.

Tempat paling tidak manusiawi itu bisa saja di Rumah Sakit. Banyak ketidakadilan yang jaraknya tercipta oleh harga dan administrasi. Tapi justru di Rumah Sakit juga, nyawa kemanusiaan akan berdenyut kencang oleh usaha manusia-manusia yang ada di dalamnya.

Saya suka menipu diri sendiri dengan berorientasi pada akhir ketika prosesnya sedang menyakitkan. Itu yang saya lakukan, dan itu salah. “Sebentar lagi ini selesai, sebentar lagi ini selesai, sabar sabar sabar.” Mungkin terlihat kontradiksi dengan nasihat papa saya, tapi ini pemikiran toksik. Saat saat dikatain “anjing saya lebih pinter baca EKG daripada kamu” itu justru saat kita belajar, jalani lah apa yang bikin sakit, apa yang bikin sesek, buktikan. Di sana pembelajaran menjadi nyata. Jadi bukannya dengan fokus dengan tujuan jadinya kita mengesampingkan yang saat ini menyakitkan, tapi justru itu saatnya menyesuaikan diri. Merespons dengan baik.

Hal paling saya ingat dari Konsulen IPD saya di akhir stase, beliau bilang begini:

“Saya jadi dokter punya prinsip sederhana: malu kalau ditanya ga bisa jawab. Teruslah belajar, malu kalau nanti pasien kamu tanya, kamu ga bisa jawab. Kamu anamnesis, pemeriksaan, diagnosis, sampai kasih obat dan edukasi, kamu harus tahu semua alasannya. Malu kalau ditanya kamu ga bisa jawab.”

Saya kira, ini bukan hanya prinsip jadi dokter. Ini prinsip hidup. Malu kalau tidak tahu. Sejalan dengan pemikiran konsulen bedah lainnya, “Jadi dokter itu dek, paling bahaya bukan kalau kamu tidak tahu, tapi dokter paling bahaya itu dokter yang tidak tahu kalau dirinya tidak tahu. Lebih parah lagi, sudah tidak tahu kalau dirinya tidak tahu, malah sok tahu!”

Saya terlambat bersyukur menjalani fase ini. Banyak kesempatan yang saya lewatkan hanya karena saya marah, tidak mau diproses. Marah melihat keadaan dan perlakuan. Dari kacamata idealis, pandangan saya tidak berubah, keadaan dan perlakuannya memang tidak pantas. Tapi jika harus menjalani lagi dengan pemahaman sekarang, sikap saya pasti berubah.

Semoga yang sedang menjalani koas bisa menikmati hari demi hari, memaknai kegagalan demi kegagalan, melembutkan sudut-sudut hati yang keras, karena saya gagal di hal ini. Semoga yang akan menjalani sebentar lagi, bisa menyambut dengan prinsip adjustment terutama dalam bertutur kata dan menerima kata, bersikap dan menyikapi, idealisme dan realita. Karena sebenarnya, semua itu tidak bertentangan, hanya sedang mencari titik keseimbangan.

Akhirnya, selesai.

Kita berjumpa lagi, persimpangan jalan. Saya masih berdiri, tegak lurus bumi.