Refleksi Minggu: No. III

Pernahkah kamu menjelajahi masa lalu orang lain? Menelusuri jalan setapak, mundur, dengan latar belakang dan narasi yang dibentuk lingkungan sesuai zamannya.

Seminggu ini saya kembali menjelajah masa lalu yang ditempuh orang-orang sekitar saya. Sebuah kebiasaan ternyata dapat dimiliki banyak orang dalam satu tempat.

Contohnya, ngopi dan makan roti srikaya di pagi hari.

Ketika mengunjungi bangunan, rumah, restoran, bahkan sebuah jalan pun memori yang membekas bisa tiba-tiba meluncur dari lidah orang tersebut.

Saya bingung, mengapa manusia –termasuk saya– cenderung senang bercerita tentang kejadian yang sudah dilalui (terutama yang memalukan diri sendiri!), tapi mundur cantik jika bicara tentang kejadian yang sifatnya personal, atau kejadian yang diharapkan akan datang.

Beberapa bulan lalu saya mendampingi mahasiswa kedokteran Belanda di Jakarta, salah satu dari mereka bertanya, “Ivan, what’s the best day of your life?”

Di lain waktu mahasiswa yang lain bertanya, “Ivan, you are a Christian right? (Nod) Why do you guys object same-sex marriage?”

“Ivan, why are you here with us? I know you are our translator, but there’s more, right?”

Dengan ketakutan dan skenario di kepala sendiri, ibarat berdiri di tebing dengan ombang-ambing lautan. Pilihannya antara terjun saja, atau membawanya pulang dalam kepala.

Setiap waktu, saya memilih membawanya pulang.

Gimana kalau tidak terjadi? Malu aku.

Yaudahlah orang lain juga belum tentu ngerti.

Nanti saja kalau sudah kejadian, sudah sukses harapannya, baru cerita.

Pengalaman yang membentuk pengharapan. Tapi, begitu juga dengan kekecewaan.

Saya sering dipukul mundur dengan ungkapan bahwa saya terlalu blak-blakan. Jika penanya lihai, pernyataan yang sama otomatis tertuju padanya.

Sudah saatnya saya (kita) menghentikan ilusi bahwa blak-blakan terasosiasi dengan sifat negatif.

Tidak setuju terhadap sesuatu bukan berarti merendahkan. Justru dengan diam, kita merendahkan orang lain bahwa orang tersebut tidak mempunyai kapasitas berpikir objektif.

Advertisements

Refleksi Minggu: No. II

Diam dan dengar

Sebanyaknya doa, harap, kalau tanpa usaha hanya akan jadi sekadar angan.

Setidaknya satu minggu ini saya diajar sabar menghadapi sekelumit orang-orang yang sedang sakit. Mereka menunggu dari pagi, mungkin baru mendapat giliran bertemu dokter sudah 5-8 jam setelah mengambil nomor antre.

Pasien dalam satu hari rata-rata di angka 200. Sulit sekali mengendalikan kecepatan untuk anamnesis pasien hingga edukasi untuk penyakitnya dalam waktu singkat. Hari senin, pendaftar mencapai 288. Saya kerja menghadapi penyakit dan memberi obat.

Hari itu saya pulang kelelahan, tapi lelah karena sepanjang hari saya bicara dan berpikir, tanpa diam dan mendengar. Pernah kah kamu seperti itu? Sepanjang hari bicara, bicara, dan isi kepala dipecut terus-terusan.

Teringat pesan Pendeta di khotbah entah kapan; berdoa itu bukan hanya bicara sama Tuhan, tapi juga belajar mendengar suara Tuhan. Bukan menyamakan diri dengan Tuhan, tapi mungkin beberapa orang datang berobat, sebenarnya bukan butuh didengar, malah mau bicara! Gantian saya yang harus mendengar.

Esoknya saya datang dengan mentalitas yang berbeda, saya datang untuk melayani. Melayani dengan cara berpikir bahwa, yang saya layani adalah manusianya, bukan penyakitnya. Hari selasa dan seterusnya pekerjaan jadi terasa lebih hidup. Saya yang lebih dulu senyum, sapa dan salam, pasien pun pulang dengan senyum.

Melayani dengan cara berpikir bahwa, yang saya layani adalah manusianya, bukan penyakitnya.

Kita mungkin bekerja seharian menghadapi hal yang sama, monoton, dan berulang. Namun, orang yang kita hadapi mungkin harus izin kerja, menunggu diantara ratusan orang lain, hanya untuk sepuluh menit menceritakan keluhannya. Sabar. Kita semua pasti bisa. Sepuluh menit saja.

Hal yang mungkin ingin kita percepat agar pekerjaan/urusan kita selesai, mungkin membuat kualitasnya untuk orang lain menurun. Jadikanlah sedikit waktu yang kita korbankan, berharga untuk mereka yang mengorbankan berlipat-lipat lebih banyak dari kita. Tidak heran, barang-barang handmade harganya sangat mahal! Presisi, waktu, dan atensi yang diberikan untuk produk tersebut tidak bisa digantikan oleh mesin.

Tidak semua hal perlu dibayar dengan uang, ada yang hanya bisa dibayar dengan perhatian, waktu, kata-kata yang baik, bahkan dengan diam.

Selamat hari Minggu!

Refleksi Minggu: No. I

Sudah beberapa kali saya ditegur orang-orang; kapan nulis lagi, Van? Entah menanti karena ada kebiasaan saya yang berubah, atau terberkati. Semoga alasannya yang saya sebutkan terakhir.

Mulai minggu ini, saya sedang membiasakan diri menulis setiap minggu, Refleksi Minggu namanya. Idenya sederhana, saya merefleksikan nilai-nilai yang saya pelajari minggu ini, lalu saya bagikan ke teman-teman pembaca. Harapannya, bisa menjadi manfaat menghadapi senin yang akan datang.

Sekadar info, tagline blog saya Poetry of reality, saya memang bertujuan melukiskan realita-realita keseharian saya dalam romantika kehidupan.

Selamat menikmati suguhan sederhana ini.

Satu minggu ini, saya belajar tentang Batas.

Aktivitas sehari-hari saya saat ini sebagai dokter internsip di Puskesmas Kecamatan Cengkareng, di luar itu, saya sedang mengabdikan waktu saya untuk mengembangkan bayi saya, Globular HI.

Berbeda dengan IGD, layang pandang Puskesmas punya peran di luar triase dan pintu masuk berlalu-lalang. Dalam masa orientasi, banyak kegiatan tingkat populasi yang disematkan di pundak Puskesmas.

Kelompok Pendukung Ibu (ini keren banget), Poliklinik HIV/AIDS, VCT mobile, Klinik Calon Pengantin yang digagas Pak Anies, Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR), impelentasi langsung dari Germas, seluruh ombak-ombak ini terasa di Puskesmas. Segala upaya yang dilakukan pemerintah hingga pelayanan tingkat primer di Jakarta, terlebih lagi Cengkareng merupakan salah satu jagoan di skala nasional, terlihat dari hari pertama menginjakkan kaki di sini.

Satu hal yang saya sadari dan pelajari adalah keterbatasan. Menjadi pekerja sosial di bidang kesehatan, dibatasi sebagai oleh persetujuan. Terapi gratis (re:dibayar oleh pemerintah), tidak menjamin pasien / sasaran mau mengikuti rekomendasi kita sebagai tenaga kesehatan.

Populasi kunci, pasien ODHA yang rutin berobat, apakah kita punya kuasa mendikte gaya hidup mereka yang berisiko? Tidak. Keputusan tetap berada di subjek terkait.

Teringat pesan Susan Sherman, profesor di Departemen Epidemiologi dan Kesehatan Johns Hopkins yang menginisiasi STILETTO Project, program prevensi HIV bagi populasi risiko tinggi seperti Pekerja Seks Komersil (PSK), pengguna narkoba jarum suntik, penari eksotis. Prof. Sherman tahu betul bahwa ia tidak bisa melarang / ikut campur pilihan hidup orang lain, melainkan memberi pilihan; mereka bisa memilih untuk menukar jarum suntik yang baru setiap pagi untuk mencegah pemakaian jarum suntik berulang & bergantian, mereka bisa memilih untuk dirujuk ke fasilitas kesehatan mengenai permasalahan mereka, hingga tes HIV dan Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP).

“We’re never in the business of saving anyone, we’re in the business of providing options.”

– Prof. Susan Sherman

Tidak bisa ada paksaan, melainkan edukasi berulang dan menuju perubahan perilaku. Kasus-kasus yang membuat greget dan geram, terbatas oleh persetujuan yang bersangkutan.

Di pusaran kehidupan kita yang lain, baik dari agama, poros politik, gaya hidup, kita juga bisa belajar kita ini terbatas.

Berilah saran, rekomendasi, petuah, tapi jangan sekali-kali memaksakan ideologi yang kita anut pada orang lain.

Selamat berbaur dengan ragamnya Indonesia, kawan.

Semangat memulai minggu ini.

Tuhan memberkati.

Catatan dalam diam #3

Berkumpul di penghujung detik ilusi. Kesempatan yang disediakan kalender merah, mencumbu liburan namun tetap bekerja. Bedanya, atas nama kekeluargaan.

Senyum yang dipinjam dari esok, tenaga yang dipinjam dari kantor.

Semakin keras di langit, semakin sunyi dalam kamar.

Langkah berjabat dengan dentum sebelumnya, merunduk dan tersedu mengucap selamat jalan.

Bergelimang harta. Dalam bentuk percikan-percikan. Gelak tawa mengelak dalam kilau.

Menyelami letupan-letupan lewat layar tanpa nyawa. Gemerlap detik-detik repetisi membakar uang.

Kau bilang aku perlu bertahan hidup, saat itu yang kudengar hanya detik melambat, menyapa mataku dengan pisaunya.

Kesenjangan yang digaungkan pemuja kiri maupun kanan, tak lepas dari penjara masing-masing nalar.

Malam itu, seakan kalian semua menenggak ekstasi pemantik amnesia.

Keputusan, keputusan, keputusasaan.

Sedih menetes sedari waktu yang tak ditentukan, tak bisa ditentukan, tak rela menjadi tentu.

Menjadi diam adalah emas. Berombak mengombang-ambing.

Mundur, menyendiri. Bakar, nikmati, besok kita semua bekerja dan kembali ke kehidupan yang tidak layak dipertahankan.

Dua sloki wiski sebelum tidur.

Enak, kan?

“Tidur sana”

Firmanmu, pelita bagi sedihku.

Catatan dalam diam #1

Wajah-wajah terbakar matahari.

Senyum-senyum terbakar antusiasme.

Tersimpan sekotak cerita di balik binar mata yang menyambut kedatangan kami. Keterbatasan ucap lidah tidak menghalangi kehangatan yang disampaikan. Kesederhaan yang sudah lama mendebu di kehidupan kota..

Saya membayangkan, bagaimana jika orang-orang ini tercemplung di perkotaan dengan segala jurang perbedaan dalam hal-hal yang menjadi dasar berkehidupan. Teringat sebuah pepatah: change is never easy.

Saya rasa begitu.

Ketika masuk dalam ruang dengan segala variabel berbeda, variabel waktu yang harusnya linier, menjadi geometris. Dalam diam, pertunjukan yang menunjukkan perubahan terjadi secara konstan. Kalian tahu, konstan berubah. Sejauh apa, sedalam apa waktu menjadi penari, melelapkan jiwa yang mulai terbiasa, mengalir bersama arus yang bernama pilihan. Seakan pilihan.

Dalam bising yang disuguhkan senyap pedesaan, waktu melakon kepala desa, menutup jendela dan lampu kamar tidurnya, beristirahat bersama bintang-bintang yang bisu menjaga.

Bisakah, bolehkah, saya mohon dengan sangat, untuk seseorang sampaikan kepada waktu, agar tidak tergesa-gesa meninggalkan suka untuk menjemput luka.

Waktu menjabat tanganku, kali ini satu kedipannya membutuhkan waktu yang biasanya cukup untuk tiga.

“Change is never easy, but it always moves. Forward or backward, let me sit behind the wheel and let you be my guest. Hold your breath, ponder your mind, make it a lifetime decision. Then open, open your eyes.. I’ll let you drive.”

 

amanatun selatanAmanatun Selatan, NTT

18 Oktober 2017

Life at a glance

Works like an organized mess.
Full of wandering butterfly of wonder. Curiosity flap its wings for us.

Somehow, we are awed. Always awed.

In hope to electrify our numb heart with its heartfelt, transcendent emotions, we pay pecuniary tributes for anything to dodge us from estrangement.

They call it art.

Empathic, amazing, jaw-dropping, spontaneous burst of emotions sprinkles our brain through vivid images from abstract imagination. Isn’t it beautiful how life defines art, then art gives life.. a life.

It’s life. It’s art.
Who knows how to draw the line between those two?

Some people called life a series of adventures, stored up on their feeds, seasoned with aphorism or verses from their Holy Book.

They fill our days with everlasting joy and jokes, broadcasting their day through a camera, underwater camera, now flying camera. I can’t keep up!

Some people called life a chain-event from one accident. They live but dead, breathe but strangled from the start. You know what I’m talking about.

They fill our days with happy-go-lucky questions, sometimes their silence is a trigger of sonder thinking.

“Embrace the alienation”, they boast. Proceed to distract their mind with every possible way human have discovered.

A wise man said, the loneliest person in the world are those who have exhausted pleasure and come away empty.

I ache from my sense of wonder..

Are there remnants of people who talk to other’s eyes with the same Joy? As if the awaited likes and comments overflows immediately.

Not for the moment, but in the moment.

Are you one of the remnants?

Every motion is an art, no doubt. Freedom of expression in life has knitted art, hence it paint the life’s face with colors. When art gives life a meaning, that’s where truth flapped its wing away from us.

Do we gaze upon its kinetic entertainment of reality, or avoid and indulge ourselves in the poetry of pleasures, only to come away empty and ask again in circular argument: what is the purpose of life..

Uncensored

Sesuai janji di post terakhir di Instagram, gw akan bahas salah satu perikop. Salah satu kisah ‘ga nyaman’ yang jarang bisa dijawab orang Kristen adalah mengenai perikop 2 Raja-Raja 2:23-24 mengenai nabi Elisa.

Sekilas ceritanya ga masuk akal dan menimbulkan banyak pertanyaan buat gw; why did God allowed such thing? Is it fair (Just) to bereaved children? Did He lose His “love” in this pericope?

#Uncensored ga secara langsung menyajikan konteks (historis, bahasa asli, sosial) perikop ini, hanya implikasinya. Let’s take a look and reflect back to my questions about His “love”.

1. Kata “anak-anak” ini origin-nya ילדים (yeladim) yang artinya “young men that have grown to maturity”. Kata yeladim ini juga dipake di beberapa tempat lain, misalnya di Kitab Daniel saat umur Daniel setidaknya 18 tahun (further readings: Xenophon, Persian King, in Cyropaedia), atau di Kejadian 44:20, yeladim digunakan untuk menjelaskan Benyamin yang saat itu kira2 berumur 30 tahun. Translasi oleh NIV pun menggunakan “youths”. Saya jadi terpikir, dari saya bayi sampai segede ini pun, orang tua saya masih memanggil kami, “anak-anak” nya. Mungkin kira-kira begitu bayangannya.

2. Di konteks ini ada 42 orang, keluar dari kota saat Elisa sedang mendaki. Kalo dibayangin sejumlah 42, berkumpul, keluar dari kota cuma buat mengutuk orang, apalagi dengan konteks “botak” dan “naik”, ini jelas tujuannya menghina nabi Tuhan, bukan iseng ngatain sembarangan orang yg lagi lewat.

3. Cemooh “botak” ini berhubungan sama konteks sosial di zaman tersebut. Mengutip buku ini: They weren’t just making fun of a bald man; they were attacking his calling as a prophet of God. They were provoking him to “go up” like his predecessor, Elijah, who “went up” in a whirlwind amd chariots of fire. (Mengenai Elia ini bisa dibaca di 2 Raja-Raja 2:11)

Yang menarik, sebelum kejadian ini, di Imamat 26:21-22, kira-kira Tuhan bilang sama orang Israel “If you walk contrary to me and will not listen to me… I will let loose the wild beasts against you, which shall bereave you of your children”.

Dari bagian ini gw belajar bahwa menggali Alkitab itu susah-susah gampang. Sekilas kayaknya Tuhan keji, tapi itu kacamata kita kalo kita ga tau kalo sebelumnya (di Imamat) Tuhan udah wanti-wanti. KITA yang maunya liat Tuhan hanya kasih, padahal Tuhan juga punya sifat adil. Perikop ini nunjukin God is being true to His words.

Yang paling gw suka bagian ini ditutup dengan penyaliban Yesus: penebusan.

Excerpt from #Uncensored:


As we read about those young men jeering at Elisha to “go up,” we can hear the faint echo of crowds jeering at Jesus on the cross, “Come down. If you are really the Son of God, come down.” As those boys experienced the bears’ clawing and ripping as God’s just judgment, so also did Jesus experience it all the more on our behalf. And there on the cross, where God’s infinite love and justice collided, He paid our debt in full and cried out, “It is finished.”

With Christ died on the cross, God fulfilled His promise to deliver His people and all the prophecies in the Old Testament. He also proves Himself to be Love and Just at the same time. When I received Christ, I tend to look at His Love without looking at the magnitude of my sins. I should be punished, yet He took the fall. My sins as a Christian didn’t go unpunished, Christ crushed for it.

“Christ didn’t die for you, He died as you.”

[#ProfoundReading from #Uncensored by Brian Cosby, page 43-45]