Uncensored

Sesuai janji di post terakhir di Instagram, gw akan bahas salah satu perikop. Salah satu kisah ‘ga nyaman’ yang jarang bisa dijawab orang Kristen adalah mengenai perikop 2 Raja-Raja 2:23-24 mengenai nabi Elisa.

Sekilas ceritanya ga masuk akal dan menimbulkan banyak pertanyaan buat gw; why did God allowed such thing? Is it fair (Just) to bereaved children? Did He lose His “love” in this pericope?

#Uncensored ga secara langsung menyajikan konteks (historis, bahasa asli, sosial) perikop ini, hanya implikasinya. Let’s take a look and reflect back to my questions about His “love”.

1. Kata “anak-anak” ini origin-nya ילדים (yeladim) yang artinya “young men that have grown to maturity”. Kata yeladim ini juga dipake di beberapa tempat lain, misalnya di Kitab Daniel saat umur Daniel setidaknya 18 tahun (further readings: Xenophon, Persian King, in Cyropaedia), atau di Kejadian 44:20, yeladim digunakan untuk menjelaskan Benyamin yang saat itu kira2 berumur 30 tahun. Translasi oleh NIV pun menggunakan “youths”. Saya jadi terpikir, dari saya bayi sampai segede ini pun, orang tua saya masih memanggil kami, “anak-anak” nya. Mungkin kira-kira begitu bayangannya.

2. Di konteks ini ada 42 orang, keluar dari kota saat Elisa sedang mendaki. Kalo dibayangin sejumlah 42, berkumpul, keluar dari kota cuma buat mengutuk orang, apalagi dengan konteks “botak” dan “naik”, ini jelas tujuannya menghina nabi Tuhan, bukan iseng ngatain sembarangan orang yg lagi lewat.

3. Cemooh “botak” ini berhubungan sama konteks sosial di zaman tersebut. Mengutip buku ini: They weren’t just making fun of a bald man; they were attacking his calling as a prophet of God. They were provoking him to “go up” like his predecessor, Elijah, who “went up” in a whirlwind amd chariots of fire. (Mengenai Elia ini bisa dibaca di 2 Raja-Raja 2:11)

Yang menarik, sebelum kejadian ini, di Imamat 26:21-22, kira-kira Tuhan bilang sama orang Israel “If you walk contrary to me and will not listen to me… I will let loose the wild beasts against you, which shall bereave you of your children”.

Dari bagian ini gw belajar bahwa menggali Alkitab itu susah-susah gampang. Sekilas kayaknya Tuhan keji, tapi itu kacamata kita kalo kita ga tau kalo sebelumnya (di Imamat) Tuhan udah wanti-wanti. KITA yang maunya liat Tuhan hanya kasih, padahal Tuhan juga punya sifat adil. Perikop ini nunjukin God is being true to His words.

Yang paling gw suka bagian ini ditutup dengan penyaliban Yesus: penebusan.

Excerpt from #Uncensored:


As we read about those young men jeering at Elisha to “go up,” we can hear the faint echo of crowds jeering at Jesus on the cross, “Come down. If you are really the Son of God, come down.” As those boys experienced the bears’ clawing and ripping as God’s just judgment, so also did Jesus experience it all the more on our behalf. And there on the cross, where God’s infinite love and justice collided, He paid our debt in full and cried out, “It is finished.”

With Christ died on the cross, God fulfilled His promise to deliver His people and all the prophecies in the Old Testament. He also proves Himself to be Love and Just at the same time. When I received Christ, I tend to look at His Love without looking at the magnitude of my sins. I should be punished, yet He took the fall. My sins as a Christian didn’t go unpunished, Christ crushed for it.

“Christ didn’t die for you, He died as you.”

[#ProfoundReading from #Uncensored by Brian Cosby, page 43-45]

Idolatry

Idolatry

Dulu gw sempet bikin hashtag #SelesaiBaca buat sharing isi buku yang gw udah selesai baca supaya orang tertarik juga buat baca buku. Banyak juga yang nanya langsung kenapa gw suka banget baca buku? Jadi gw akan coba sharing detil-detil buku bacaan gw yang menarik. Tujuannya masih sama, semoga jadi pada tertarik baca buku. Gw pake hashtag #ProfoundReading ya!

.

Dari buku #Uncensored, bagian [You can do it. God can help.] ini gw baca berulang-ulang. “How many times did I say that in my heart?” Rasanya ga keitung, apalagi ini sesuai banget sama spirit buku-buku Self Help yang berjajar di best seller. Ga kebayang sebelumnya kalo ternyata.. ini termasuk penyembahan berhala (idolatry). Brian Cosby jelasin bahwa ga sedikit gereja yang menerapkan konsep ini dalam kebaktiannya; misalnya do your best and with God, you can achieve anything! Buat gw ini lumayan menyentuh Prosperity Gospel (yang gak akan gw bahas lebih panjang di sini) tapi yang menarik adalah kalau gw liat lagi, pemikiran seperti ini satu rumpun dengan konsep: you can earn God’s blessing. If you’re a Christian, you know we can’t earn it by our efforts.

.

Kenapa sih ini termasuk idolatry? Menurut Brian Cosby, karena pemikiran ini “magnifying the gifts of God above the Giver Himself” dan menurut gw ini sangat tepat dibilang idolatry. Kalau di perumpamaan Anak yang Hilang (Lukas 15:11-32), kita ini seperti anak yang lebih menginginkan harta Bapa ketimbang pribadi Bapa itu sendiri.

.

Dari sini pun gw belajar lebih lagi soal ‘grace’. Semakin belajar, semakin ngerti juga kenapa Paulus dari yang mengakui “di antara semua rasul Kristus, aku yang paling berdosa” bisa sampe bilang “di antara semua pendosa, aku yang paling berdosa”. (We’ll talk about sin later)

.

Next gw akan share mengenai pembahasan Brian Cosby mengenai 2 Raja-Raja 2:23-24, salah satu “ayat sulit” yang sering dipakai ateis untuk mempertanyakan Tuhan dalam Alkitab.

.

Don’t hesitate to comment or your thoughts on any area you think I should improve about my sharing. Thank you!

.

[#ProfoundReading from #Uncensored by Brian Cosby, page 36-38]

Option

Decisive.

That’s one of the leader’s trait eh?

I took a hard decision yesterday. That one who makes your night haunted by the “what ifs”. It didn’t hammered me down to the bottomless pit. I’m over that phase.

Rather, I asked, where did this come from?

The storming gush of “let’s do something”, is it lingering?

Is it the time when people, whom once sharpen the prolific voice of idealists, starts becoming alike?

Is it the time when people, whom once stomped the ground wherever they stand, starts crawling to find a spot in this merciless world?

Are they going low,

Or am I failed to see that it is just adapting?

Kebebasan

Penuh dengan banyak hal, saya mencoba mengurai kusut benang-benang yang ingin saling mendahului dalam tangga prioritas di kepala saya, ya kita sebut saja kumpulan ini dengan sebutan: namanya-juga-hidup. Sekian bulan saya tidak komentar, karena berdebat dengan orang bodoh hanya membuktikan ada dua orang bodoh dalam debat itu, kata seorang filsuf. Saya kembali berusaha mencari, apa itu kebenaran. Nyatanya, dalam praktik kehidupan, semua golongan mengklaim kebenaran, padahal tidak mungkin ada dua kebenaran yang bertolak belakang. Antara salah satunya benar, atau keduanya salah.

Jawaban. Saya pikir itu (ilmu) yang dibutuhkan untuk membuang tendesi salah sangka, menjernihkan pikiran sebelum mencapai konklusi, atau dengan kata lain meningkatkan level kebijaksanaan. Ini membuat saya meredupkan komentar-komentar nyelekit yang tidak jarang melukai orang atau grup tertentu.

Kesalahan saya yang terbesar adalah, menganggap orang lain melakukan hal yang sama. Ketika saya diam, mencari pengertian, saya kira orang lain melakukan hal yang sama. Ketika saya menolak masuk ke debat kusir dan saling melukai relasi, saya kira orang lain melakukan hal yang sama. Juga ketika saya mengumpulkan data dan kebenaran yang teruji, ketika saya berusaha mati-matian memperjuangkan itu untuk kebaikan banyak orang, saya kira mereka akan melakukan hal yang sama, dan sama-sama mengerti.

Beberapa orang (mungkin banyak) yang terluka dengan perkataan, sikap, dan tindakan saya karena perbedaan kutub dalam menilik kebenaran. Seperti yang sudah saya sebutkan, tidak mungkin ada dua kebenaran yang bertolak belakang. Saya putuskan untuk berjuang, apakah saya merasa paling benar? Tidak juga, namun saya berprinsip harus perjuangkan yang menurut nurani saya benar. Jika kutub seberang lebih benar, kita buktikan di arena yang tepat, dengan gagasan dan landasan yang tepat juga. Jika di awal saya sebutkan sekian bulan saya tidak berkomentar, ada beberapa hal yang saya diamkan beberapa tahun, karena saya tidak mau ngotot membuktikan saya benar, tapi mengorbankan relasi. Imbalan yang tidak sepadan. Saya kira mereka melakukan hal yang sama, tapi ternyata mereka meracuni orang sekitar dengan membentuk opini yang tidak benar dan penuh prasangka tak berdasar.

Kecenderungan saya untuk diam, sarkastik, membuat plot untuk mempermalukan di depan umum, tidak komunikatif, itu semua keburukan yang saya sadari, saya pahami, dan terus saya perbaiki. Jika anda termasuk orang yang saya sakiti, saya akan menyampaikan permohonan maaf, karena menjadi sebuah kemunafikan jika saya berkata saya ingin. Sebelum itu, saya akan katakan beberapa hal.

Pertama, mengutip Anais Nin; we don’t see things as they are, we see things as we are.

Jika kacamata prasangka, asosiasi golongan yang sejalan dengan anda, asosiasi saya dengan golongan yang berseberangan dengan anda, kebenaran relatif yang sudah anda klaim dengan confirmation bias, strawman, tanpa landasan logika dan argumen yang jelas, dan anda tetap mendapati saya bersalah, curang, menyalahi aturan, saya minta maaf.

Kedua, salah satu teman saya pernah berkata: if a person said we hurt him/her, we don’t get to choose to say that we didn’t. Respons kita menentukan apa yang mengalir dari hati kita. Saya memilih untuk menghargai perasaan orang yang lain yang terluka karena saya walaupun menurut logika saya, belum tentu itu karena saya. Jadi jika timbul perasaan sakit hati karena saya, saya minta maaf.

Ketiga, saya ingin sampaikan opini praktis saya hal yang berkaitan dengan yang kedua. Jika saya merasa seseorang menyakiti saya, benarkah orang itu yang menyakiti saya, atau ketidaksesuaian dengan persepsi (ilusi) saya yang membuat saya sakit hati? Sudahkah saya periksa kebenaran yang hati saya sendiri rasakan sebelum mengatakan orang tersebut yang menyakiti saya?

Jika setelah berpikir jernih tanpa cacat logika selayaknya manusia berpendidikan, sudah mencari kebenaran, tanpa embel-embel asosiasi bizarre, prasangka, saya memang menyakiti anda, saya minta maaf.

Jangan sampai, kebebasan kita dalam berperasaan membuat diri kita hipersensitif terhadap kebebasan orang lain. Kebebasan yang sesungguhnya, adalah kebebasan yang dibatasi oleh kebebasan orang lain. Jika kebebasan kita membelenggu kebebasan orang lain, menyalahkan orang tersebut karena mengganggu kebebasan kita, kemudian kita berteriak ke seluruh dunia bagaimana orang itu mencederai kebebasan, itu bukan kebebasan, tapi kebangsatan.

Saya tidak perlu minta maaf untuk yang terakhir, kan?

Choice

I woke up at 11.00 am despite 7.30 am alarm.

Shimmering lights dancing upon my eyelids, apparently too thin to hold the sun’s diffused light. I rubbed my face against my pillow, pulled my knees onto my chest, wishing fetal position would send my conscience back to dreamland 5 minutes more. I chose not to have my cup of coffee that day though. My palate refused anything I put on my tongue lately.

I didn’t see my cat that morning, maybe they are visiting neighbour’s yard. They kind of adopt human’s tendecy toward their environment; ambience-seeker, calm-craving, self-centered creature. As one of my fellow said, routine is like a rust. Well, maybe these feline understand it better.

What’s the agenda today, Self? Nothing? Oh. I thought we have 14 lines on our weekly agenda? Nada? Not today?

It was a choice. It was my choice.
Woke up. Snoozed. Morning pray. Cold shower.

I made thousands of choices everyday I may not aware. Only one or two per day had perfectly imprinted in my memory; “this one is an important decision”, I told myself.

I hardly remember, if not recall, what kind of mornings I had. What kind of ritual I developed, what kind of stability “My Days” were proposing to “My Weeks”. What kind of hurricane-triggering-habits that I constantly feed my mood.

That noon my cervical spine aching. No surprise, since it bore the weight of all my unnecessary questions, some of them translated into this pointless writing.

I think I deserved the ache.

“Mendingan gue vape daripada ngerokok.

Globular Health initiative

“Mendingan gue vape daripada ngerokok.”

“Mendingan gue vape daripada ngerokok,” benarkah lebih baik vape daripada rokok? Beberapa dari teman saya yang tadinya antirokok pun, akhirnya memutuskan untuk vaping. Glamor iklan-iklan maupun standar kekinian yang selalu mengikuti tren tidak luput menginklusi rokok elektrik, atau e-cigarettes, vaporizer.Vaping, lebih sering didengar sebagai kosakata untuk menyebutnya di masyarakat.

Vape merupakan e-cigarettes generasi ketiga, dengan generasi pertama yang berbentuk seperti rokok (cigalike), generasi kedua dengan bentuk pena atau obeng dengan katrid (cartridge) dan kapasitas baterai yang lebih besar, dan sekarang muncul vape sebagai generasi ketiga dengan menggunakan sistem tangki dan mudah dimodifikasi. Popularitas vape memang sedang melonjak tinggi lantaran modifikasi yang bisa dilakukan sangat bervariasi dan maraknya penjualan online semakin memudahkan orang untuk mendapatkan produk-produk vape.

Produk vape mengandung beberapa senyawa, salah satunya nikotin, sebagaimana terdapat pada rokok konvensional, yang merupakan zat yang menimbulkan adiksi…

Lihat pos aslinya 714 kata lagi

Failure

I failed again.

In my loneliest nights, those sticky shadows creeps in. They cloud me from God’s limitless grace. Blind and deaf. I failed again.

The corner of my room is the warmest cliff I have ever visited. Gallant and deafening wind became my comfort. O darkness I fell, indulge me in the blankest sheet you proposed. Unveil the beast of my past, time-traveler. I long for the relativity of time. Instruct me with your deepest tangled-thoughts. We shall be exiled far from exaltation’s horizon. We will tend our bleeding wound with salted sin.

That night.. is a portrait of my dismembered mind and heart; savagely ripped from common sense.

They call me headstrong. Extrapolation of utopian-but-harmonised answer leads to it, maybe. They chose to see me as idealist instead of delusional. Occasionally, world pissed me off, but my head never accepted its slightest ridicule. Bandaged in dream and nobel goal, I forced my way. Somehow I get away with it for almost 20 years.

Until one stomp of hard rejection, I’m on a slippery slope of failure. The fall of confidence, chronic & progressive solitary bubble, extreme touchy-feely, fear in a form of perfectionism, all wrapped up in a society-familiar term: introvert.

The misconception about introvert “doesn’t enjoy social event” and the uprising popularity of MBTI and Jungian Typology colored the years of my truth-seeking mind. The madness going over to divide people into extrovert and introvert, in order to pseudoanalyst their traits and justify their misbehavior added up a pressure on my back.

“They don’t understand.”

I embraced the glorious serenity of “me time”. It helped me harnest ideas from my head. Some, if not most, do experienced the same thing, they maximized their depression as a channel to liquidify and boil their works. I kinda like the word “saturation” to explain this phenomenon, in a way it is aligned with “no art is born without sadness” said by one of an artist.

Nothing’s wrong, really. Everything flows with its constantly changing current. Nothing, until it bumped my threshold and causing explosion here and there. Mood swing, broad range of emotion in a matter of seconds, so-called laziness, not-typical-INFP kind of mess. It rusted my dream, decayed by time. Dragged from among the stars, speared into graveyard’s door.

I failed again.

The constant back and forth between Future and Past was (maybe, and is) the theme of my head’s timeline. Burned everything in between.

I never lived.
I am an insignificant dust in Chrono’s world. Bouncing between two polars powered by trauma and dream.

In the end, I managed to finish my study; medicine.

The end of one hell of a phase. This should be my turning. This should be the exact one point where change is inevitable. Knowledge may be the key, but it always changes and I need a perfect ground to stand tall.

I should be over but limitless grace sustains. I need to find a rock to balance my failure, to appreciate and not to underestimate the weight of it brings.

I should look up and climb. I should look down and thank.
I should move forward, and try leave my past with peace.

I must learn to cast the mantra more often: I am ultimately weak but His grace made perfect in it.

December 25th, 2016.

Happy Born Day, Christ the Messiah.
You are, indeed, Prince of Peace.