Life at a glance

Works like an organized mess.
Full of wandering butterfly of wonder. Curiosity flap its wings for us.

Somehow, we are awed. Always awed.

In hope to electrify our numb heart with its heartfelt, transcendent emotions, we pay pecuniary tributes for anything to dodge us from estrangement.

They call it art.

Empathic, amazing, jaw-dropping, spontaneous burst of emotions sprinkles our brain through vivid images from abstract imagination. Isn’t it beautiful how life defines art, then art gives life.. a life.

It’s life. It’s art.
Who knows how to draw the line between those two?

Some people called life a series of adventures, stored up on their feeds, seasoned with aphorism or verses from their Holy Book.

They fill our days with everlasting joy and jokes, broadcasting their day through a camera, underwater camera, now flying camera. I can’t keep up!

Some people called life a chain-event from one accident. They live but dead, breathe but strangled from the start. You know what I’m talking about.

They fill our days with happy-go-lucky questions, sometimes their silence is a trigger of sonder thinking.

“Embrace the alienation”, they boast. Proceed to distract their mind with every possible way human have discovered.

A wise man said, the loneliest person in the world are those who have exhausted pleasure and come away empty.

I ache from my sense of wonder..

Are there remnants of people who talk to other’s eyes with the same Joy? As if the awaited likes and comments overflows immediately.

Not for the moment, but in the moment.

Are you one of the remnants?

Every motion is an art, no doubt. Freedom of expression in life has knitted art, hence it paint the life’s face with colors. When art gives life a meaning, that’s where truth flapped its wing away from us.

Do we gaze upon its kinetic entertainment of reality, or avoid and indulge ourselves in the poetry of pleasures, only to come away empty and ask again in circular argument: what is the purpose of life..

Advertisements

Merawat Kemerdekaan, Merawat Mereka

Merawat Kemerdekaan, Merawat Mereka

Orang miskin dilarang sakit.

Sentilan yang familiar sekali di telinga kita orang Indonesia, apalagi yang merasakan sendiri bahwa biaya berobat itu mahal, bahkan sampai sekarang pun tergolong begitu. Tidak heran, sebenarnya. Pada zaman penjajahan, tentu hal yang terlalu muluk kalau kita mengharapkan kesehatan rakyat Indonesia diperhatikan. Setelah proklamasi kemerdekaan tahun 1945, lahirlah dasar negara UUD 1945 yang menjadi landasan pembangunan kesehatan rakyat Indonesia.

Namun, mengenai pencegahan penyakit melalui imunisasi sudah berjalan jauh sebelum Indonesia merdeka. Variolla (smallpox), atau cacar, merupakan penyakit cacar yang disebabkan oleh virus dan dapat menyebabkan komplikasi berupa kematian. Pada abad ke-19 dan ke-20, organisasi kesehatan dunia, WHO, gencar mengkampanyekan vaksinasi cacar ke seluruh dunia.

Menurut Bosma dalam Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia, vaksinasi sudah dilakukan oleh pemerintahan kolonial yang dipimpin Thomas Stamford Raffles, Lt General Governor (1811-1816). Mereka memperlakukan imunisasi sebagai masalah kesehatan global hal yang mengancam kepentingan mereka di Indonesia, sehingga kota-kota pelabuhan penting di Pulau Jawa seperti Surabaya, Semarang, dan Batavia, imunisasi cacar pun menjadi prioritas. Usaha Raffles kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, bahkan hingga memobilisasi pemuka agama dan tokoh masyarakat untuk mendukung program vaksinasi.

Insidens penyakit Variolla terus merosot hingga pada tahun 1980, WHO mendeklarasikan bahwa dunia sudah berhasil mengeradikasi penyakit tersebut, berkat adanya vaksin.

Perhatikan bahwa pada periode tersebut, ketika kesehatan masyarakat Indonesia bukanlah kepentingan penjajah, namun mereka tetap mengimunisasi dengan tujuan melindungi kelompok mereka. Setelah merdeka 72 tahun, apakah kita merawat kemerdekaan Indonesia, yang tertuang dalam UUD 1945 pasal 28H tentang hak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan?

Sekian tahun telah berlalu dari era Variolla, masa penjajahan telah berlalu, masihkah sama masalah kesehatan yang kita hadapi? Dunia sempat ramai dengan Ebola yang sudah sempat teratasi, namun muncul kembali dan menelan banyak nyawa. Apakah tidak ada terapinya? Mengapa begitu mematikan? Apakah tidak ada vaksinnya?

Dua Dunia

Secara umum, penyakit dibagi menjadi dua bagian besar: penyakit menular dan penyakit tidak menular. Seiring berkembangnya zaman dan kemajuan peradaban, insidens penyakit menular (infeksius) semakin menurun, hal ini selaras dengan meningkatnya faktor determinan sosial kesehatan, misalnya pengetahuan mengenai transmisi penyakit, meningkatnya sanitasi lingkungan, dan higienitas perorangan. Namun seiring dengan menurunnya penyakit-penyakit tersebut (yang tentunya juga merupakan peran dari vaksinasi), penyakit tidak menular justru meningkat.

Berdasarkan data World Bank, di tahun 2000 diare menduduki peringkat kelima penyebab kematian terbesar di dunia, dengan jumlah 2,1 juta kematian, peringkat pertama diduduki oleh penyakit jantung dengan jumlah enam juta kematian. Pada tahun 2012, World Bank mengeluarkan data terbaru, dengan penyebab kematian nomor satu di dunia masih diduduki oleh penyakit jantung (7,4 juta kematian), dan masih berada peringkat sepuluh besar, diare turun menjadi penyebab ketujuh dengan jumlah kematian yang sudah menurun menjadi 1,5 juta kematian.

deathSource: World Bank

Sebagai negara berkembang yang masih ‘relatif muda’, selagi Indonesia masih berkutat dengan penyakit infeksius, Indonesia mulai berhadapan dengan Penyakit Tidak Menular (PTM). Di dalam kelompok PTM ini, berkumpul seluruh jenis penyakit individual yang berbeda sifatnya dengan penyakit seperti cacar. Secara sadar maupun tidak sadar, tidak ada seorang pun yang mengharapkan ditemukannya vaksin untuk mencegah seseorang terserang stroke, penyakit jantung, atau skizofrenia. Perbedaan sifat ini berimplikasi pada perbedaan pendekatan hingga penyelesaian masalahnya.

Saat ini, Indonesia sedang mengalami fase saat penyakit menular sedang menurun dan penyakit tidak menular sedang meningkat. Hal ini disebut double burden of diseases. Isu yang berkembang bahkan ada yang disebut triple burden of diseases, yaitu penyakit-penyakit yang dahulu ada, sekarang muncul kembali (re-emerging diseases).

Masyarakat Indonesia pun seperti gagap menyikapi fase dua dunia yang sedang negara ini hadapi. Ketika seorang figur di kalangan remaja Indonesia, yang kemudian disusul vokalis Linkin Park, Chester Bennington meninggal karena bunuh diri, atau ketika wawasan bahwa kesehatan jiwa lebih dari sekadar skizofrenia mulai populer di kalangan masyarakat, Indonesia menampakkan dirinya sebagai tempat dimana tingkat viralitas isu sosial menjadi tolok ukur tingkat kepedulian warganya. Namun tragedi seperti ini membawa kemajuan yang berarti, Menteri Kesehatan Indonesia, Prof. Nila Moeloek mengumumkan bahwa Kementerian Kesehatan akan membuat hotline pengaduan untuk cegah aksi bunuh diri. Lain halnya dengan bagaimana Indonesia menyikapi masalah rokok. Sampai saat ini, Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia Pasifik yang tidak menandatangani FCTC, international treaty yang dibuat oleh WHO untuk menyikapi masalah tembakau di negara masing-masing. Negara ini masih dilanda kebimbangan apakah rokok benar-benar tidak baik untuk kesehatan? Padahal, pada tahun 1950, British Medical Journal mengeluarkan jurnal yang menjabarkan 684 kasus yang menghubungkan rokok dengan kanker paru. Masih sering dijumpai argument-argumen dengan cacat logika anecdotal, membesar-besarkan sebuah anomali dan mengabaikan statistik.2 Tidak heran, dalam penyusunan SDGs, alat implementasi goal ke-3 mengenai kesehatan, FCTC berada di peringkat pertama. Artinya, FCTC adalah alat yang sangat mungkin diimplementasikan jika suatu negara berkomitmen untuk meningkatkan taraf kesehatan bangsanya. Hal ini mencerminkan keterlibatan sektor politik, sosiokultural, ekonomi, dan pendidikan dalam isu rokok.

Sekian banyak sektor dan disiplin ilmu yang terlibat untuk menyelesaikan masalah kesehatan, para ilmuwan memikirkan ulang konsep “Penyakit Tidak Menular”, Non-Communicable Diseases (NCD), yang tertuang dalam suatu artikel berjudul Reframing non-communicable diseases as socially transmitted conditions oleh Allen, Luke et al dalam jurnal medis ternama, The Lancet, yang mengusung pengubahan nama NCD menjadi “socially trasmitted conditions” untuk menunjukkan bahwa pada hakikatnya, yang kita sebut tidak menular secara biologis pun, menular secara sosial.3

Perubahan ini akan bersifat fundamental yang akan berimplikasi pada perspektif dalam menjaga dan merawat kesehatan bangsa Indonesia.

Selagi dunia kesehatan harus beradaptasi terhadap perubahan-perubahan fundamental mengenai dunia socially transmitted conditions, permasalahan dari dunia infeksius yang sudah sempat teratasi, muncul kembali dan semoga tidak sampai menelan banyak nyawa seperti Ebola.

Masalah tersebut adalah kelompok antivaksin.

Merawat Kemerdekaan dari Penyakit

Menurut Leavel dan Clark, pencegahan penyakit terbagi menjadi 5 tahapan, pada umumnya disebut five levels of prevention, yaitu: 1. Promosi kesehatan, 2. Perlindungan umum dan khusus terhadap penyakit-penyakit tertentu. 3. Penegakkan diagnosis secara dini dan pengobatan yang cepat dan tepat. 4. Pembatasan kecacatan. 5. Pemulihan kesehatan.

Vaksin sendiri merupakan bagian dari level kedua, yaitu specific protection. Grup antivaksin sebenarnya bukan barang baru dalam daftar masalah mengenai vaksinasi. Vaksin dikaitkan dengan autisme, konspirasi, dan sederet alasan lainnya telah menjadi bagian dari level pertama, yaitu promosi kesehatan. Menjadi sulit ketika saat ini alasan menolak imunisasi dikaitkan dengan agama dan kepercayaan. Presiden Joko Widodo pun berkeliling Indonesia mengkampanyekan imunisasi MR. Ditambahkan oleh Menteri Agama, Lukman H. Saifuddin, akan memberi sanksi pada Pondok Pesantren yang menolak imunisasi.

Bagaimana dengan hak orang tua menolak imunisasi anaknya?

Pemerintah kolonial tetap mengimunisasi masyarakat Indonesia walaupun ini bukan perhatian mereka karena mereka mengerti yang disebut dengan kekebalan kelompok (herd immunity). Batas minimum suatu kelompok dinyatakan kebal adalah 80% populasi tersebut mempunyai kekebalan, jika kurang dari 80%, maka dapat terjadi outbreak. Bisa saja orang tua menolak anaknya divaksin, namun bagaimana dengan hak kelompok rentan dalam populasi tersebut, seperti bayi, ibu hamil, dan lansia jika terjadi outbreak? Haruskah hak orang tua menempatkan mereka dalam risiko?

Kita bisa melihat kompleksitas dan dinamika masalah kesehatan Indonesia yang terus berkembang setiap saat. Belum selesai dengan diare, kita sudah berhadapan dengan meningkatnya insidens penyakit jantung, stroke. Peran faktor-faktor sosial terhadap masalah kesehatan, sudah diutarakan oleh Rudolf Virchow, Bapak Kedokteran Sosial, pada tahun 1848 bahwa penyakit bukanlah suatu keadaan yang personal dan spesial, melainkan sebuah manifestasi kehidupan dari kondisi yang dialami orang tersebut, dari awal dia lahir hingga kematiannya.

Ketika kita memilih tidak mengimunisasi anak kita sebagai penegasan hak pribadi kita, artinya kita memilih membahayakan kemerdekaan anak-anak kita dari ancaman penyakit yang bisa berujung pada kecacatan bahkan kematian banyak orang.

Ketika kita membiarkan anak-anak kita terpapar iklan rokok di baliho dan televisi, terpapar asap rokok dari dalam rumah hingga jalan umum, mengabaikan regulasi yang diperlukan, kita sedang kondisi sosial yang merusak kemerdekaan mereka untuk menikmati udara yang sehat.

Ketika kita menganggap anak-anak yang gemuk adalah anak yang sehat, kita sedang membiarkan ketidaktahuan kita menjadi salah satu kondisi sosial yang bisa membuat anak kita terjangkit penyakit jantung dan stroke di masa depan.

Ketika kita memaksa anak-anak kita untuk cemerlang secara akademik dengan memadatkan jadwal belajar mereka sejak dini tanpa memperhatikan kebutuhan dan kesehatan mentalnya, kita sedang merusak kemerdekaan mereka dari pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

Setelah merdeka dari penjajah dan dasar konstitusi negara ini dirumuskan, sejauh mana Indonesia merawat kemerdekaan rakyatnya dengan menciptakan kondisi dan lingkungan hidup yang baik dan sehat? Kesehatan mungkin memang bukan segalanya, masih ada ekonomi, pendidikan, dan hal lain yang menjadi perhatian dan fokus utama. Namun tanpa kesehatan, masih adakah artinya hal-hal tersebut?

Jika kita mau merawat kemerdekaan Indonesia, pulanglah.. Rawatlah anak-anakmu dengan baik.

Heaven for Vapers

Heaven for Vapers

E-cigarettes (ECs) has changed the tide of tobacco control movement around the world. Vaporizer and other nicotine delivery device users are rapidly growing. E-cigarettes are devices with liquid cartridge container, batteries, and a heating element. The common ingredients of vapor are nicotine, propylene glycol, flavorings, and other substances. The nicotine itself, derived from tobacco plant. Some may half-agree to call it tobacco product, because the liquid may not contain nicotine. From terminology to marketing, e-cigarettes left us amidst haze of questions.

On August 9th 2017, “Panel Discussion on Potential Alternative Tobacco Product” held by Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP), in collaboration with LIPI and MOVI (Ministry of Vape Indonesia). First speaker, from The Indonesian Public Health Association (IAKMI), spoke about national health framework, briefed us a concept of Public Health: promotion, prevention, curative, and rehabilitation. She about conventional cigarettes, the hard-fought battle against it, and showing that vape may be the answer as an alternative product. Second speaker, from Academic Leadership Grant (ALG), a dentist, shared about her husband’s cigarette addiction, then presented scientific journals of ECs and emphasized ALG team’s visit to Global Nicotine Forum 2017 in Poland to present their paper on vape, making sure we understand it was positively welcomed in international-leveled forum. Third speaker, from MOVI, shared his story with conventional cigarette and how he switched to vaporizer.

I was running late to the event that day, I never thought that I was running late on the development of e-cigarettes issue too, am I not? I thought the discussion was an investigation of e-cigarettes viability as an option, turns out it was a pro-vaporizer’s defense.

As far as I know, prominent scientists are endorsing e-cigarettes as part of the solution from global tobacco epidemic, which they already presented at the event, but they didn’t mention The International Union Against Tuberculosis and Lung Disease stated that “The safety of electronic cigarettes (ECs) or electronic nicotine delivery systems (ENDS) has not been scientifically demonstrated.” (The Union, 2014) They also didn’t mention there are also scientists who stands with The Union, a pediatrician voiced his concerns about e-cigarettes through Review Article “E-cigarettes: vulnerability of youth” because nicotine is highly addictive and highly harmful to developing of brain and other organs. (Schraufnagel, 2015)

If we want to investigate, the very least thing we have to do is to consider both sides before we decide our stance and ask the right questions. Some confusions must be answered before we accept the pro-ECs view, for example why are we not treating nicotine patch or nicotine gum as much as vape, which serves the same purpose as vaporizer, as a viable harm-reduction device? They have the scientific evidence advantage over vape and are already accepted among health organizations. If vape is accepted as a harm-reduction device, then we too, have to agree that it must not promote normalization of smoking, it must be prescribed just like medicine: by trained health workers. If we can’t agree on that, then it must be cautiously regulated to avoid irrational use, regarding “vulnerability of youth”.

The presenters at the event knew the issue exceptionally well, except it was one-sided from the speakers’ anecdotal view of e-cigarettes, if not, vaporizer, and it was lack of opposing journals. The climate of the discussion was, in my mind frame, showing signs of reckless need of alternative tobacco product while ignoring holistic & comprehensive Public Health approach. Indonesia needs to hasten its decision on this issue while simultaneously being cautious. Until we have a firm grip on the matter, we should not embrace anything thrown into our face in order to banish the “heaven for smokers” tattoo on Indonesia’s forehead. While we are waiting, let us agree not to go through another painful process of another tattoo, “heaven for vapers”.

Uncensored

Sesuai janji di post terakhir di Instagram, gw akan bahas salah satu perikop. Salah satu kisah ‘ga nyaman’ yang jarang bisa dijawab orang Kristen adalah mengenai perikop 2 Raja-Raja 2:23-24 mengenai nabi Elisa.

Sekilas ceritanya ga masuk akal dan menimbulkan banyak pertanyaan buat gw; why did God allowed such thing? Is it fair (Just) to bereaved children? Did He lose His “love” in this pericope?

#Uncensored ga secara langsung menyajikan konteks (historis, bahasa asli, sosial) perikop ini, hanya implikasinya. Let’s take a look and reflect back to my questions about His “love”.

1. Kata “anak-anak” ini origin-nya ילדים (yeladim) yang artinya “young men that have grown to maturity”. Kata yeladim ini juga dipake di beberapa tempat lain, misalnya di Kitab Daniel saat umur Daniel setidaknya 18 tahun (further readings: Xenophon, Persian King, in Cyropaedia), atau di Kejadian 44:20, yeladim digunakan untuk menjelaskan Benyamin yang saat itu kira2 berumur 30 tahun. Translasi oleh NIV pun menggunakan “youths”. Saya jadi terpikir, dari saya bayi sampai segede ini pun, orang tua saya masih memanggil kami, “anak-anak” nya. Mungkin kira-kira begitu bayangannya.

2. Di konteks ini ada 42 orang, keluar dari kota saat Elisa sedang mendaki. Kalo dibayangin sejumlah 42, berkumpul, keluar dari kota cuma buat mengutuk orang, apalagi dengan konteks “botak” dan “naik”, ini jelas tujuannya menghina nabi Tuhan, bukan iseng ngatain sembarangan orang yg lagi lewat.

3. Cemooh “botak” ini berhubungan sama konteks sosial di zaman tersebut. Mengutip buku ini: They weren’t just making fun of a bald man; they were attacking his calling as a prophet of God. They were provoking him to “go up” like his predecessor, Elijah, who “went up” in a whirlwind amd chariots of fire. (Mengenai Elia ini bisa dibaca di 2 Raja-Raja 2:11)

Yang menarik, sebelum kejadian ini, di Imamat 26:21-22, kira-kira Tuhan bilang sama orang Israel “If you walk contrary to me and will not listen to me… I will let loose the wild beasts against you, which shall bereave you of your children”.

Dari bagian ini gw belajar bahwa menggali Alkitab itu susah-susah gampang. Sekilas kayaknya Tuhan keji, tapi itu kacamata kita kalo kita ga tau kalo sebelumnya (di Imamat) Tuhan udah wanti-wanti. KITA yang maunya liat Tuhan hanya kasih, padahal Tuhan juga punya sifat adil. Perikop ini nunjukin God is being true to His words.

Yang paling gw suka bagian ini ditutup dengan penyaliban Yesus: penebusan.

Excerpt from #Uncensored:


As we read about those young men jeering at Elisha to “go up,” we can hear the faint echo of crowds jeering at Jesus on the cross, “Come down. If you are really the Son of God, come down.” As those boys experienced the bears’ clawing and ripping as God’s just judgment, so also did Jesus experience it all the more on our behalf. And there on the cross, where God’s infinite love and justice collided, He paid our debt in full and cried out, “It is finished.”

With Christ died on the cross, God fulfilled His promise to deliver His people and all the prophecies in the Old Testament. He also proves Himself to be Love and Just at the same time. When I received Christ, I tend to look at His Love without looking at the magnitude of my sins. I should be punished, yet He took the fall. My sins as a Christian didn’t go unpunished, Christ crushed for it.

“Christ didn’t die for you, He died as you.”

[#ProfoundReading from #Uncensored by Brian Cosby, page 43-45]

Idolatry

Idolatry

Dulu gw sempet bikin hashtag #SelesaiBaca buat sharing isi buku yang gw udah selesai baca supaya orang tertarik juga buat baca buku. Banyak juga yang nanya langsung kenapa gw suka banget baca buku? Jadi gw akan coba sharing detil-detil buku bacaan gw yang menarik. Tujuannya masih sama, semoga jadi pada tertarik baca buku. Gw pake hashtag #ProfoundReading ya!

.

Dari buku #Uncensored, bagian [You can do it. God can help.] ini gw baca berulang-ulang. “How many times did I say that in my heart?” Rasanya ga keitung, apalagi ini sesuai banget sama spirit buku-buku Self Help yang berjajar di best seller. Ga kebayang sebelumnya kalo ternyata.. ini termasuk penyembahan berhala (idolatry). Brian Cosby jelasin bahwa ga sedikit gereja yang menerapkan konsep ini dalam kebaktiannya; misalnya do your best and with God, you can achieve anything! Buat gw ini lumayan menyentuh Prosperity Gospel (yang gak akan gw bahas lebih panjang di sini) tapi yang menarik adalah kalau gw liat lagi, pemikiran seperti ini satu rumpun dengan konsep: you can earn God’s blessing. If you’re a Christian, you know we can’t earn it by our efforts.

.

Kenapa sih ini termasuk idolatry? Menurut Brian Cosby, karena pemikiran ini “magnifying the gifts of God above the Giver Himself” dan menurut gw ini sangat tepat dibilang idolatry. Kalau di perumpamaan Anak yang Hilang (Lukas 15:11-32), kita ini seperti anak yang lebih menginginkan harta Bapa ketimbang pribadi Bapa itu sendiri.

.

Dari sini pun gw belajar lebih lagi soal ‘grace’. Semakin belajar, semakin ngerti juga kenapa Paulus dari yang mengakui “di antara semua rasul Kristus, aku yang paling berdosa” bisa sampe bilang “di antara semua pendosa, aku yang paling berdosa”. (We’ll talk about sin later)

.

Next gw akan share mengenai pembahasan Brian Cosby mengenai 2 Raja-Raja 2:23-24, salah satu “ayat sulit” yang sering dipakai ateis untuk mempertanyakan Tuhan dalam Alkitab.

.

Don’t hesitate to comment or your thoughts on any area you think I should improve about my sharing. Thank you!

.

[#ProfoundReading from #Uncensored by Brian Cosby, page 36-38]

Option

Decisive.

That’s one of the leader’s trait eh?

I took a hard decision yesterday. That one who makes your night haunted by the “what ifs”. It didn’t hammered me down to the bottomless pit. I’m over that phase.

Rather, I asked, where did this come from?

The storming gush of “let’s do something”, is it lingering?

Is it the time when people, whom once sharpen the prolific voice of idealists, starts becoming alike?

Is it the time when people, whom once stomped the ground wherever they stand, starts crawling to find a spot in this merciless world?

Are they going low,

Or am I failed to see that it is just adapting?

Transisi

Transisi

Semula kepindahan Tegak Lurus Bumi ke WordPress, saya berencana WordPress untuk tulisan mengenai global health, Tumblr tetap menjadi tempat curhat ngalor ngidul entah apa. Tapi ternyata kebablasan nyaman sama WordPress. #eh. Jadi saya putuskan menulis di sini juga, dalam kategori Journal. Kiranya dengan dituang dan mengalir, ia tidak menjadi keruh.

Saya sudah cukup lama tidak menulis, ada rasa enggan ikut arus penulis yang tulisannya sebagian besar bernaung di linimasa media sosial, yang sebenarnya secara umum merupakan hal baik. Saya berusaha menjauhi bacaan soal opini orang lain mengenai isu sosial. rasanya cukup dulu Pilkada membuat saya banyak kehilangan teman dan memalingkan diri dari politik sementara waktu.

Saya berusaha menjauhi bacaan soal opini orang lain mengenai isu sosial. rasanya cukup dulu Pilkada membuat saya banyak kehilangan teman dan memalingkan diri dari politik sementara waktu.

Saya mulai lagi, dengan Transisi.

Saat kita berumur 1 tahun, kemudian waktu berlalu dan umur kita menjadi 2 tahun, rasanya begitu signifikan arti sebuah ulang tahun. Umur kita menjadi dua kali lipat umur sebelumnya.  Coba perhatikan, semakin bertambah dewasa, misalnya umur 20 ke 21, tidak begitu berarti karena ia bertambah hanya 1/20, tidak lagi 2 kali lipat. Mungkin, tanpa kita sadari, begitu pula yang terjadi dengan bulan dan hari. Mungkin, itu juga yang terjadi dengan setiap momen,

Kita merasa perencanaan semakin panjang ke depan semakin bagus, hitungan tahun bahkan puluhan tahun. Saya berencana kuliah di Harvard tahun 2020, menikah di umur 26, dua orang anak, tinggal di sudut Yogyakarta. Lumrah dan visioner, bukan?

Beberapa bulan ini, banyak renungan-renungan yang saya hitung mundur menyusuri memori, bukan ke depan meraba masa. Prof. Richard Muller bertanggung jawab penuh atas pikiran saya mengenai konsep waktu karena buku terakhir beliau, Now: The Physics of Time, mengenai relativitas waktu. Dalam bukunya, Prof. Richard memaparkan bagaimana sebenarnya konsep “sekarang”, “saat ini” sebenarnya relatif tergantung sudut pandang siapa, tidak absolut. Contoh sederhana: GPS yang kita pakai di gawai? Satelit harus menyesuaikan waktu di jam kita dengan pergerakan satelit tersebut (3.8 km per second), kecepatan tersebut membuat dilatasi waktu dalam 1 hari (24 jam) memanjang sebanyak 7,200 nanosecond, saking kecilnya seperti tidak ada perbedaan (tepatnya 24,000000002 jam). Kecepatan gelombang radio adalah 1 kaki/nanosecond. Akibatnya, harus ada kalkulasi dilatasi waktu antara “saat ini” menurut satelit dan “saat ini” menurut kita, pengguna GPS. Jika satelit mengabaikan adanya dilatasi waktu ini, maka posisi kita sejauh 7,200 nanosecond, yaitu 7,200 kaki, kira-kira 2.25 km. Sulit mengatakan bahwa 7,200 nanosecond tidak signifikan, karena dengan dilatasi sesingkat itu, posisi kita bisa meleset 2.25 km.

Hal ini juga membuat saya berpikir mengenai sifat omnipresence Tuhan semakin dekat untuk dipahami manusia seiring berkembangnya pengetahuan mengenai waktu. 

Saya menelusuri ulang, tahun-tahun, bulan-bulan, hari-hari yang telah dijalani, bagaimana keputusan-keputusan minor menyusun momentumnya menjadi sebuah klik: keputusan mayor. Bagaimana itu juga mungkin terjadi di kehidupan orang lain, di masa yang sama, masa yang berbeda, masa yang akan datang, masa yang batal datang karena keputusan-keputusan minor di tengahnya. Selagi waktu memang linier berjalan ke depan, tapi diri saya mengalami transisi ke belakang. Mengutip Tame Impala, it feels like I (we) only go backwards.

Pikiran saya penuh sesak dengan absurditas perjalanan waktu dan sekuens kejadian.

Jika saya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memulai ulang kehidupan dari nol dan saya bebas memilih hidup siapa pun, kehidupan siapa yang akan saya minta?

Dalam doa dan renungan, saya mendapatkan beberapa hal yang menjadi pertimbangan; Tuhan berdaulat penuh (Ratapan 3:37-38; Ayub 2:10; Amsal 16:33; Matius 10:29), Tuhan akan menjalankan seluruh rencananya (Ayub 42:2; Yesaya 46:10; Daniel 4:35), dan tentunya (Kejadian 50:20) dan (Ibrani 12:11).

Pada akhirnya saya menjawab, saya akan jalani diri saya lagi. Dengan segala kegagalan, kepahitan, jatuh bangun, dan air mata, saya akan jalani lagi dengan sukarela.. karena jika ini yang terbaik, untuk apa menghidupi kehidupan lain yang bukan kehidupan terbaik.

“God allows us to experience the low points of life in order to teach us lessons that we could learn in no other way.” – C. S. Lewis

Transisi. Berproses. Jalani. Berkali-kali saya harus ingatkan diri sendiri mengenai proses, kesetiaan pada perkara kecil sebelum diberi perkara besar. Karakter mendahului penghargaan. Manfaat mendahului popularitas. Tumbuh mendahului penghormatan.

To my Depression,

But I know that I’ll be happier
And I know you will, too
Said, I know that I’ll be happier
And I know you will, too

Eventually
Eventually

— Eventually, Tame Impala

Saya pulang. Saya siap kembali berbagi.

2:44, 5 Juni 2017