Featured

[Ulasan] Freakonomics

“Apapun pekerjaanmu, kamu harus mengerti ekonomi.”

Saya lupa siapa yang mengatakan itu beberapa tahun lalu saat saya bilang saya tidak mengerti ekonomi, tidak tertarik ekonomi, dan tidak mau tahu ekonomi. Ribet masalah uang. Toh, cinta uang adalah akar dari segala kejahatan. #pembelaan

Namun setelah menjajaki kehidupan kerja, mulai pusing mengatur keuangan yang rasanya selalu kurang, dan mulai sadar perlunya manajemen keuangan supaya ngga bocor ke hal-hal ngga berguna, saya baru mengerti kenapa semua orang harus belajar ekonomi.

Processed with VSCO with s2 preset

Freakonomics buku ekonomi pertama yang saya baca, dan ternyata berbeda jauh dari ekspektasi saya mengenai buku ekonomi. Untuk pembaca yang belum familiar dengan karakter saya, saya tipe pemilih buku yang judge a book by its cover, bukan dari ulasan.

Morality, it could be argued, represent the way that people would like the world to work — whereas economics represents how it actually does work. Economics is above all a science of measurement.

Setelah membaca kalimat tersebut di prakata, saya pikir ini akan menjadi buku yang menarik karena secara tidak langsung, penulis menyuguhkan deviasi dari moralitas. Artinya, mereka menyadari ada standar moral yang mungkin saja tidak tercapai dari kacamata ekonomi, dunia ini tidak berjalan seperti semestinya.

Judul tiap bab buku yang disuguhkan pun kontroversial, perlu dibaca hingga selesai untuk memahaminya.

Bab pertama, misalnya, What do schoolteachers and sumo wrestlers have in common? menantang pembaca untuk mengira-ngira apa isi pembahasan bab ini. Saya menemukan konten dan gaya bahasa penulis yang menitikberatkan data dan aplikasinya dalam kasus yang diangkat. Alur buku ini mengingatkan saya pada buku-buku Malcolm Gladwell, terutama David & Goliath.

Saya akan coba membahas lebih dalam mengenai beberapa hal yang cukup menarik perhatian saya sebagai pegiat kesehatan; penyalahgunaan informasi, disparitas rasial, dan legalitas aborsi.

Continue reading “[Ulasan] Freakonomics”

Advertisements

Catatan dalam diam #4

Khawatir. Diantara transaksi canda dan tanya, ada khawatir singgah bernuansa kesendirian.

Mereka bilang kebebasan.

Ini anginku, biarlah membawa menerpa, apapun yang kusuguhkan dalam rumahku.

Itu ombakku, lebih baik kayuh sampai ke belahan di baliknya.

Terus, gerus.. Kayuh, sayup.. Hati ini gaduh..

Mereka bilang normal. Sejauh mana kau percaya itu, nona? Sejauh mana kau percaya itu benar?

Apakah benarmu benarmu, benarku benarku? Di mana kita bisa bertemu tatap mata, tanpa mata, bergilir membacakan pesan-pesan yang terlintas menggerogoti waktu.. Sejauh jemari mencari nara. Kukecup dan titipkan kesenangan yang bermetamorfosis menjadi gelisah, mengalir dalam vena kita, bergelombang menjadi jarak yang semakin tinggi dan segera berhamburan, dalam diam.

Esokmu segera menjadi kemarin, Uwok.

Jagalah, risaulah pada detikmu.

Serat-serat yang kau jalin dengan pengasingan, jaraklah.

Sejengkal lebih baik dari terjengkal.

Letakkan, sungkur, lempar mahkota filosofimu, tanya pada-Nya:

siapa aku.

Nak, pulang sebelum maghrib. Itu pesan Ibu. Pulang..

Barat terlalu jauh, Timur terlalu dekat. Aku tahu itu.

Bacalah, risaulah, gemetarlah atas esokmu.

Sekejap mereka Hari Ini, sekedip mereka Kemarin.

Jengkalmu, Uwok. Ukur dari dadamu. Jangan sampai terjengkal.

Khawatir… selalu..

Catatan dalam diam #3

Berkumpul di penghujung detik ilusi. Kesempatan yang disediakan kalender merah, mencumbu liburan namun tetap bekerja. Bedanya, atas nama kekeluargaan.

Senyum yang dipinjam dari esok, tenaga yang dipinjam dari kantor.

Semakin keras di langit, semakin sunyi dalam kamar.

Langkah berjabat dengan dentum sebelumnya, merunduk dan tersedu mengucap selamat jalan.

Bergelimang harta. Dalam bentuk percikan-percikan. Gelak tawa mengelak dalam kilau.

Menyelami letupan-letupan lewat layar tanpa nyawa. Gemerlap detik-detik repetisi membakar uang.

Kau bilang aku perlu bertahan hidup, saat itu yang kudengar hanya detik melambat, menyapa mataku dengan pisaunya.

Kesenjangan yang digaungkan pemuja kiri maupun kanan, tak lepas dari penjara masing-masing nalar.

Malam itu, seakan kalian semua menenggak ekstasi pemantik amnesia.

Keputusan, keputusan, keputusasaan.

Sedih menetes sedari waktu yang tak ditentukan, tak bisa ditentukan, tak rela menjadi tentu.

Menjadi diam adalah emas. Berombak mengombang-ambing.

Mundur, menyendiri. Bakar, nikmati, besok kita semua bekerja dan kembali ke kehidupan yang tidak layak dipertahankan.

Dua sloki wiski sebelum tidur.

Enak, kan?

“Tidur sana”

Firmanmu, pelita bagi sedihku.

Catatan dalam diam #2

Berkali-kali, lembaran sirna dan terbit bergantian dengan syukur dan ucap bahagia, ratusan kali berbalas sungkur dan ucap serapah.

Hari ini, sekian dari diam yang meraja, bertakhta menyelami memerintah, panca indera.

“Untuk apa?” pikiran bertanya.

Tidak ada jawaban.

Tanpa suara, bergelora dalam pekik keheningan yang menekan entah gendang telinga atau jiwa. Atau keduanya.

Hari ini berjudul keluarga. Di padang yang diam-diam lumpuh, satu ilalang terinjak terisak, tanpa suara. Berlutut meminta hujan. Namun turun hujat.

“Untuk apa?” Tuhan bertanya.

Bergetar dalam arus angin, teriak gesekan rumput-rumput liar yang bertabrakan tanpa arti, tanpa pikir, dan mungkin, tanpa rasa.

Kasih. Kisah. Senyum. Peluk. Canda. Sapa. Makan bersama. Apa kabar. Bagaimana hari ini.

Mau teh hangat? Manis atau tawar?

Semuanya, Tuhan. Semuanya..

Semua kusenandungkan dalam hujan yang menetes berirama, sebutir demi sebutir dari langit timur.

Barat menikmati senja menyambut malam. Sunyi yang bergegas bicara lantang tanpa tantang. Menengadah, berkaca di kanvas tanpa batas.

“Untukmu, Tuhan.”

 Terbaring dalam alunan napas yang melambat, menghirup pertanyaan selanjutnya yang harus kujawab dalam tatap.

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.

Ada waktunya untuk menangis.

“Untuk siapa?” Tuhan bertanya.

Tidak.

Ada.

Jawaban.

 

Jakarta, 30 November 2017

Catatan dalam diam #1

Wajah-wajah terbakar matahari.

Senyum-senyum terbakar antusiasme.

Tersimpan sekotak cerita di balik binar mata yang menyambut kedatangan kami. Keterbatasan ucap lidah tidak menghalangi kehangatan yang disampaikan. Kesederhaan yang sudah lama mendebu di kehidupan kota..

Saya membayangkan, bagaimana jika orang-orang ini tercemplung di perkotaan dengan segala jurang perbedaan dalam hal-hal yang menjadi dasar berkehidupan. Teringat sebuah pepatah: change is never easy.

Saya rasa begitu.

Ketika masuk dalam ruang dengan segala variabel berbeda, variabel waktu yang harusnya linier, menjadi geometris. Dalam diam, pertunjukan yang menunjukkan perubahan terjadi secara konstan. Kalian tahu, konstan berubah. Sejauh apa, sedalam apa waktu menjadi penari, melelapkan jiwa yang mulai terbiasa, mengalir bersama arus yang bernama pilihan. Seakan pilihan.

Dalam bising yang disuguhkan senyap pedesaan, waktu melakon kepala desa, menutup jendela dan lampu kamar tidurnya, beristirahat bersama bintang-bintang yang bisu menjaga.

Bisakah, bolehkah, saya mohon dengan sangat, untuk seseorang sampaikan kepada waktu, agar tidak tergesa-gesa meninggalkan suka untuk menjemput luka.

Waktu menjabat tanganku, kali ini satu kedipannya membutuhkan waktu yang biasanya cukup untuk tiga.

“Change is never easy, but it always moves. Forward or backward, let me sit behind the wheel and let you be my guest. Hold your breath, ponder your mind, make it a lifetime decision. Then open, open your eyes.. I’ll let you drive.”

 

amanatun selatanAmanatun Selatan, NTT

18 Oktober 2017

Life at a glance

Works like an organized mess.
Full of wandering butterfly of wonder. Curiosity flap its wings for us.

Somehow, we are awed. Always awed.

In hope to electrify our numb heart with its heartfelt, transcendent emotions, we pay pecuniary tributes for anything to dodge us from estrangement.

They call it art.

Empathic, amazing, jaw-dropping, spontaneous burst of emotions sprinkles our brain through vivid images from abstract imagination. Isn’t it beautiful how life defines art, then art gives life.. a life.

It’s life. It’s art.
Who knows how to draw the line between those two?

Some people called life a series of adventures, stored up on their feeds, seasoned with aphorism or verses from their Holy Book.

They fill our days with everlasting joy and jokes, broadcasting their day through a camera, underwater camera, now flying camera. I can’t keep up!

Some people called life a chain-event from one accident. They live but dead, breathe but strangled from the start. You know what I’m talking about.

They fill our days with happy-go-lucky questions, sometimes their silence is a trigger of sonder thinking.

“Embrace the alienation”, they boast. Proceed to distract their mind with every possible way human have discovered.

A wise man said, the loneliest person in the world are those who have exhausted pleasure and come away empty.

I ache from my sense of wonder..

Are there remnants of people who talk to other’s eyes with the same Joy? As if the awaited likes and comments overflows immediately.

Not for the moment, but in the moment.

Are you one of the remnants?

Every motion is an art, no doubt. Freedom of expression in life has knitted art, hence it paint the life’s face with colors. When art gives life a meaning, that’s where truth flapped its wing away from us.

Do we gaze upon its kinetic entertainment of reality, or avoid and indulge ourselves in the poetry of pleasures, only to come away empty and ask again in circular argument: what is the purpose of life..

Merawat Kemerdekaan, Merawat Mereka

Orang miskin dilarang sakit.

Sentilan yang familiar sekali di telinga kita orang Indonesia, apalagi yang merasakan sendiri bahwa biaya berobat itu mahal, bahkan sampai sekarang pun tergolong begitu. Tidak heran, sebenarnya. Pada zaman penjajahan, tentu hal yang terlalu muluk kalau kita mengharapkan kesehatan rakyat Indonesia diperhatikan. Setelah proklamasi kemerdekaan tahun 1945, lahirlah dasar negara UUD 1945 yang menjadi landasan pembangunan kesehatan rakyat Indonesia.

Namun, mengenai pencegahan penyakit melalui imunisasi sudah berjalan jauh sebelum Indonesia merdeka. Variolla (smallpox), atau cacar, merupakan penyakit cacar yang disebabkan oleh virus dan dapat menyebabkan komplikasi berupa kematian. Pada abad ke-19 dan ke-20, organisasi kesehatan dunia, WHO, gencar mengkampanyekan vaksinasi cacar ke seluruh dunia.

Menurut Bosma dalam Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia, vaksinasi sudah dilakukan oleh pemerintahan kolonial yang dipimpin Thomas Stamford Raffles, Lt General Governor (1811-1816). Mereka memperlakukan imunisasi sebagai masalah kesehatan global hal yang mengancam kepentingan mereka di Indonesia, sehingga kota-kota pelabuhan penting di Pulau Jawa seperti Surabaya, Semarang, dan Batavia, imunisasi cacar pun menjadi prioritas. Usaha Raffles kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, bahkan hingga memobilisasi pemuka agama dan tokoh masyarakat untuk mendukung program vaksinasi.

Insidens penyakit Variolla terus merosot hingga pada tahun 1980, WHO mendeklarasikan bahwa dunia sudah berhasil mengeradikasi penyakit tersebut, berkat adanya vaksin.

Perhatikan bahwa pada periode tersebut, ketika kesehatan masyarakat Indonesia bukanlah kepentingan penjajah, namun mereka tetap mengimunisasi dengan tujuan melindungi kelompok mereka. Setelah merdeka 72 tahun, apakah kita merawat kemerdekaan Indonesia, yang tertuang dalam UUD 1945 pasal 28H tentang hak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan?

Sekian tahun telah berlalu dari era Variolla, masa penjajahan telah berlalu, masihkah sama masalah kesehatan yang kita hadapi? Dunia sempat ramai dengan Ebola yang sudah sempat teratasi, namun muncul kembali dan menelan banyak nyawa. Apakah tidak ada terapinya? Mengapa begitu mematikan? Apakah tidak ada vaksinnya?

Dua Dunia

Secara umum, penyakit dibagi menjadi dua bagian besar: penyakit menular dan penyakit tidak menular. Seiring berkembangnya zaman dan kemajuan peradaban, insidens penyakit menular (infeksius) semakin menurun, hal ini selaras dengan meningkatnya faktor determinan sosial kesehatan, misalnya pengetahuan mengenai transmisi penyakit, meningkatnya sanitasi lingkungan, dan higienitas perorangan. Namun seiring dengan menurunnya penyakit-penyakit tersebut (yang tentunya juga merupakan peran dari vaksinasi), penyakit tidak menular justru meningkat.

Berdasarkan data World Bank, di tahun 2000 diare menduduki peringkat kelima penyebab kematian terbesar di dunia, dengan jumlah 2,1 juta kematian, peringkat pertama diduduki oleh penyakit jantung dengan jumlah enam juta kematian. Pada tahun 2012, World Bank mengeluarkan data terbaru, dengan penyebab kematian nomor satu di dunia masih diduduki oleh penyakit jantung (7,4 juta kematian), dan masih berada peringkat sepuluh besar, diare turun menjadi penyebab ketujuh dengan jumlah kematian yang sudah menurun menjadi 1,5 juta kematian.

deathSource: World Bank

Sebagai negara berkembang yang masih ‘relatif muda’, selagi Indonesia masih berkutat dengan penyakit infeksius, Indonesia mulai berhadapan dengan Penyakit Tidak Menular (PTM). Di dalam kelompok PTM ini, berkumpul seluruh jenis penyakit individual yang berbeda sifatnya dengan penyakit seperti cacar. Secara sadar maupun tidak sadar, tidak ada seorang pun yang mengharapkan ditemukannya vaksin untuk mencegah seseorang terserang stroke, penyakit jantung, atau skizofrenia. Perbedaan sifat ini berimplikasi pada perbedaan pendekatan hingga penyelesaian masalahnya.

Saat ini, Indonesia sedang mengalami fase saat penyakit menular sedang menurun dan penyakit tidak menular sedang meningkat. Hal ini disebut double burden of diseases. Isu yang berkembang bahkan ada yang disebut triple burden of diseases, yaitu penyakit-penyakit yang dahulu ada, sekarang muncul kembali (re-emerging diseases).

Masyarakat Indonesia pun seperti gagap menyikapi fase dua dunia yang sedang negara ini hadapi. Ketika seorang figur di kalangan remaja Indonesia, yang kemudian disusul vokalis Linkin Park, Chester Bennington meninggal karena bunuh diri, atau ketika wawasan bahwa kesehatan jiwa lebih dari sekadar skizofrenia mulai populer di kalangan masyarakat, Indonesia menampakkan dirinya sebagai tempat dimana tingkat viralitas isu sosial menjadi tolok ukur tingkat kepedulian warganya. Namun tragedi seperti ini membawa kemajuan yang berarti, Menteri Kesehatan Indonesia, Prof. Nila Moeloek mengumumkan bahwa Kementerian Kesehatan akan membuat hotline pengaduan untuk cegah aksi bunuh diri. Lain halnya dengan bagaimana Indonesia menyikapi masalah rokok. Sampai saat ini, Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia Pasifik yang tidak menandatangani FCTC, international treaty yang dibuat oleh WHO untuk menyikapi masalah tembakau di negara masing-masing. Negara ini masih dilanda kebimbangan apakah rokok benar-benar tidak baik untuk kesehatan? Padahal, pada tahun 1950, British Medical Journal mengeluarkan jurnal yang menjabarkan 684 kasus yang menghubungkan rokok dengan kanker paru. Masih sering dijumpai argument-argumen dengan cacat logika anecdotal, membesar-besarkan sebuah anomali dan mengabaikan statistik.2 Tidak heran, dalam penyusunan SDGs, alat implementasi goal ke-3 mengenai kesehatan, FCTC berada di peringkat pertama. Artinya, FCTC adalah alat yang sangat mungkin diimplementasikan jika suatu negara berkomitmen untuk meningkatkan taraf kesehatan bangsanya. Hal ini mencerminkan keterlibatan sektor politik, sosiokultural, ekonomi, dan pendidikan dalam isu rokok.

Sekian banyak sektor dan disiplin ilmu yang terlibat untuk menyelesaikan masalah kesehatan, para ilmuwan memikirkan ulang konsep “Penyakit Tidak Menular”, Non-Communicable Diseases (NCD), yang tertuang dalam suatu artikel berjudul Reframing non-communicable diseases as socially transmitted conditions oleh Allen, Luke et al dalam jurnal medis ternama, The Lancet, yang mengusung pengubahan nama NCD menjadi “socially trasmitted conditions” untuk menunjukkan bahwa pada hakikatnya, yang kita sebut tidak menular secara biologis pun, menular secara sosial.3

Perubahan ini akan bersifat fundamental yang akan berimplikasi pada perspektif dalam menjaga dan merawat kesehatan bangsa Indonesia.

Selagi dunia kesehatan harus beradaptasi terhadap perubahan-perubahan fundamental mengenai dunia socially transmitted conditions, permasalahan dari dunia infeksius yang sudah sempat teratasi, muncul kembali dan semoga tidak sampai menelan banyak nyawa seperti Ebola.

Masalah tersebut adalah kelompok antivaksin.

Merawat Kemerdekaan dari Penyakit

Menurut Leavel dan Clark, pencegahan penyakit terbagi menjadi 5 tahapan, pada umumnya disebut five levels of prevention, yaitu: 1. Promosi kesehatan, 2. Perlindungan umum dan khusus terhadap penyakit-penyakit tertentu. 3. Penegakkan diagnosis secara dini dan pengobatan yang cepat dan tepat. 4. Pembatasan kecacatan. 5. Pemulihan kesehatan.

Vaksin sendiri merupakan bagian dari level kedua, yaitu specific protection. Grup antivaksin sebenarnya bukan barang baru dalam daftar masalah mengenai vaksinasi. Vaksin dikaitkan dengan autisme, konspirasi, dan sederet alasan lainnya telah menjadi bagian dari level pertama, yaitu promosi kesehatan. Menjadi sulit ketika saat ini alasan menolak imunisasi dikaitkan dengan agama dan kepercayaan. Presiden Joko Widodo pun berkeliling Indonesia mengkampanyekan imunisasi MR. Ditambahkan oleh Menteri Agama, Lukman H. Saifuddin, akan memberi sanksi pada Pondok Pesantren yang menolak imunisasi.

Bagaimana dengan hak orang tua menolak imunisasi anaknya?

Pemerintah kolonial tetap mengimunisasi masyarakat Indonesia walaupun ini bukan perhatian mereka karena mereka mengerti yang disebut dengan kekebalan kelompok (herd immunity). Batas minimum suatu kelompok dinyatakan kebal adalah 80% populasi tersebut mempunyai kekebalan, jika kurang dari 80%, maka dapat terjadi outbreak. Bisa saja orang tua menolak anaknya divaksin, namun bagaimana dengan hak kelompok rentan dalam populasi tersebut, seperti bayi, ibu hamil, dan lansia jika terjadi outbreak? Haruskah hak orang tua menempatkan mereka dalam risiko?

Kita bisa melihat kompleksitas dan dinamika masalah kesehatan Indonesia yang terus berkembang setiap saat. Belum selesai dengan diare, kita sudah berhadapan dengan meningkatnya insidens penyakit jantung, stroke. Peran faktor-faktor sosial terhadap masalah kesehatan, sudah diutarakan oleh Rudolf Virchow, Bapak Kedokteran Sosial, pada tahun 1848 bahwa penyakit bukanlah suatu keadaan yang personal dan spesial, melainkan sebuah manifestasi kehidupan dari kondisi yang dialami orang tersebut, dari awal dia lahir hingga kematiannya.

Ketika kita memilih tidak mengimunisasi anak kita sebagai penegasan hak pribadi kita, artinya kita memilih membahayakan kemerdekaan anak-anak kita dari ancaman penyakit yang bisa berujung pada kecacatan bahkan kematian banyak orang.

Ketika kita membiarkan anak-anak kita terpapar iklan rokok di baliho dan televisi, terpapar asap rokok dari dalam rumah hingga jalan umum, mengabaikan regulasi yang diperlukan, kita sedang kondisi sosial yang merusak kemerdekaan mereka untuk menikmati udara yang sehat.

Ketika kita menganggap anak-anak yang gemuk adalah anak yang sehat, kita sedang membiarkan ketidaktahuan kita menjadi salah satu kondisi sosial yang bisa membuat anak kita terjangkit penyakit jantung dan stroke di masa depan.

Ketika kita memaksa anak-anak kita untuk cemerlang secara akademik dengan memadatkan jadwal belajar mereka sejak dini tanpa memperhatikan kebutuhan dan kesehatan mentalnya, kita sedang merusak kemerdekaan mereka dari pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

Setelah merdeka dari penjajah dan dasar konstitusi negara ini dirumuskan, sejauh mana Indonesia merawat kemerdekaan rakyatnya dengan menciptakan kondisi dan lingkungan hidup yang baik dan sehat? Kesehatan mungkin memang bukan segalanya, masih ada ekonomi, pendidikan, dan hal lain yang menjadi perhatian dan fokus utama. Namun tanpa kesehatan, masih adakah artinya hal-hal tersebut?

Jika kita mau merawat kemerdekaan Indonesia, pulanglah.. Rawatlah anak-anakmu dengan baik.