Featured

[Ulasan] Freakonomics

“Apapun pekerjaanmu, kamu harus mengerti ekonomi.”

Saya lupa siapa yang mengatakan itu beberapa tahun lalu saat saya bilang saya tidak mengerti ekonomi, tidak tertarik ekonomi, dan tidak mau tahu ekonomi. Ribet masalah uang. Toh, cinta uang adalah akar dari segala kejahatan. #pembelaan

Namun setelah menjajaki kehidupan kerja, mulai pusing mengatur keuangan yang rasanya selalu kurang, dan mulai sadar perlunya manajemen keuangan supaya ngga bocor ke hal-hal ngga berguna, saya baru mengerti kenapa semua orang harus belajar ekonomi.

Processed with VSCO with s2 preset

Freakonomics buku ekonomi pertama yang saya baca, dan ternyata berbeda jauh dari ekspektasi saya mengenai buku ekonomi. Untuk pembaca yang belum familiar dengan karakter saya, saya tipe pemilih buku yang judge a book by its cover, bukan dari ulasan.

Morality, it could be argued, represent the way that people would like the world to work — whereas economics represents how it actually does work. Economics is above all a science of measurement.

Setelah membaca kalimat tersebut di prakata, saya pikir ini akan menjadi buku yang menarik karena secara tidak langsung, penulis menyuguhkan deviasi dari moralitas. Artinya, mereka menyadari ada standar moral yang mungkin saja tidak tercapai dari kacamata ekonomi, dunia ini tidak berjalan seperti semestinya.

Judul tiap bab buku yang disuguhkan pun kontroversial, perlu dibaca hingga selesai untuk memahaminya.

Bab pertama, misalnya, What do schoolteachers and sumo wrestlers have in common? menantang pembaca untuk mengira-ngira apa isi pembahasan bab ini. Saya menemukan konten dan gaya bahasa penulis yang menitikberatkan data dan aplikasinya dalam kasus yang diangkat. Alur buku ini mengingatkan saya pada buku-buku Malcolm Gladwell, terutama David & Goliath.

Saya akan coba membahas lebih dalam mengenai beberapa hal yang cukup menarik perhatian saya sebagai pegiat kesehatan; penyalahgunaan informasi, disparitas rasial, dan legalitas aborsi.

Continue reading “[Ulasan] Freakonomics”

Advertisements

A Prince in a Republic

​#SelesaiBaca | A Prince in a Republic

Sultan HBIX mulai dikenal sejak masa studinya di Universitas Leiden karena keaktifan organisasinya. Mengirimkan Dorojatun (nama panggilan Sultan HBIX) ke Barat untuk studi merupakan strategi Sultan HBVIII untuk membiasakan anak-anaknya dengan lingkungan, kultur, dan kehidupan intelektual di Barat. Hal ini umum dilakukan oleh keluarga sultan pada tahun 1900an, termasuk Sunan Solo, Sunan Mangkunegara dan Pakualam.
Keaktifannya di lembaga mahasiswa Leiden membuat Minister Welter “full of praise for R M Dorojatun” dan membuat nama Dorojatun melejit “because he seemed the kind of Western-oriented prince.”
Saat Sultan HBIX diangkat menjadi Sultan, tanggal 18 Maret 1940, yang artinya Yogyakarta masih berada di bawah jajahan Belanda. Governer Adam (Belanda) menambahkan “You have had, I believe, no reason to complain about my good faith,” yang kemudian ditanggapi oleh pernyataan Sultan HBIX: Al heb ik een uitgesproken Westerse opvoeding gehad, toch ben ik en bliff ik ej de allereerste plats Javaan.” Dengan kata lain, “I have had an extensive Western upbringing, yet I am and remain above all a Javanese.” Pernyataan singkat yang mengundang beberapa interpretasi, misalnya apakah ini pernyataan nasionalisme atau Sultan hanya memikirkan Yogyakarta? Sultan hanya menyebut dirinya Javanese, bukan Indonesian. Strategi yang menarik.
Lalu saat kemerdekaan terjadi, HB IX punya pilihan: menolak Republik dan beraliansi dengan Belanda, deklarasi Yogyakarta sebagai daerah independen, /wait and see/, deklarasi dukungan untuk Republik dan merelakan Kesultanannya, atau opsi terakhir (yang akhirnya beliau pilih) mendukung Republik dan mempertahankan Kesultanan. Keputusan Sultan HBIX ini asal usul Yogyakarta disebut sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta. Taktis.
Perjuangan tidak berhenti sampai di sana, banyak gejolak setelah deklarasi kemerdekaan. Namun ada satu bagian yang menurut saya pemikiran Sultan HBIX relevan dipelajari untuk diterapkan sekarang. Ketika ditanya adanya kemungkinan revolusi sosial di Jawa seperti di Sumatra, Sultan menjawab perilaku seperti itu tidak mungkin terjadi di Yogyakarta. Tapi jika “revolusi sosial” yang dimaksud adalah terciptanya daerah modern, eliminasi iliterasi dan peningkatan taraf hidup sosial, ini adalah tujuan Republik yang mendapat dukungan Sultan sepenuhnya.
Testimoni dari P.J.A. Idenburg tentanf Sultan HBIX: HBIX as a high calibre Javanese prince who had managed to maintain his standing even in the difficult Japanese period and had shown a keen appreciation of the new circumstances. HBIX has endless patience and is not a figure who would act in a spontaneous and unprepared manner when the aims of the action are not assured.
Tokoh Indonesia yang paling saya kagumi sampai saat ini, dan buku ini paling komprehensif menceritakan setiap detail perjalanan hidup beliau. 👌