Catatan dalam diam #4

Khawatir. Diantara transaksi canda dan tanya, ada khawatir singgah bernuansa kesendirian.

Mereka bilang kebebasan.

Ini anginku, biarlah membawa menerpa, apapun yang kusuguhkan dalam rumahku.

Itu ombakku, lebih baik kayuh sampai ke belahan di baliknya.

Terus, gerus.. Kayuh, sayup.. Hati ini gaduh..

Mereka bilang normal.Β Sejauh mana kau percaya itu, nona? Sejauh mana kau percayaΒ itu benar?

Apakah benarmu benarmu, benarku benarku? Di mana kita bisa bertemu tatap mata, tanpa mata, bergilir membacakan pesan-pesan yang terlintas menggerogoti waktu.. Sejauh jemari mencari nara. Kukecup dan titipkan kesenangan yang bermetamorfosis menjadi gelisah, mengalir dalam vena kita, bergelombang menjadi jarak yang semakin tinggi dan segera berhamburan, dalam diam.

Esokmu segera menjadi kemarin, Uwok.

Jagalah, risaulah pada detikmu.

Serat-serat yang kau jalin dengan pengasingan, jaraklah.

Sejengkal lebih baik dari terjengkal.

Letakkan, sungkur, lempar mahkota filosofimu, tanya pada-Nya:

siapa aku.

Nak, pulang sebelum maghrib. Itu pesan Ibu. Pulang..

Barat terlalu jauh, Timur terlalu dekat. Aku tahu itu.

Bacalah, risaulah, gemetarlah atas esokmu.

Sekejap mereka Hari Ini, sekedip mereka Kemarin.

Jengkalmu, Uwok. Ukur dari dadamu. Jangan sampai terjengkal.

Khawatir… selalu..

Advertisements

Catatan dalam diam #2

Berkali-kali, lembaran sirna dan terbit bergantian dengan syukur dan ucap bahagia, ratusan kali berbalas sungkur dan ucap serapah.

Hari ini, sekian dari diam yang meraja, bertakhta menyelami memerintah, panca indera.

“Untuk apa?” pikiran bertanya.

Tidak ada jawaban.

Tanpa suara, bergelora dalam pekik keheningan yang menekan entah gendang telinga atau jiwa. Atau keduanya.

Hari ini berjudul keluarga. Di padang yang diam-diam lumpuh, satu ilalang terinjak terisak, tanpa suara. Berlutut meminta hujan. Namun turun hujat.

“Untuk apa?” Tuhan bertanya.

Bergetar dalam arus angin, teriak gesekan rumput-rumput liar yang bertabrakan tanpa arti, tanpa pikir, dan mungkin, tanpa rasa.

Kasih. Kisah. Senyum. Peluk. Canda. Sapa. Makan bersama. Apa kabar. Bagaimana hari ini.

Mau teh hangat? Manis atau tawar?

Semuanya, Tuhan. Semuanya..

Semua kusenandungkan dalam hujan yang menetes berirama, sebutir demi sebutir dari langit timur.

Barat menikmati senja menyambut malam. Sunyi yang bergegas bicara lantang tanpa tantang. Menengadah, berkaca di kanvas tanpa batas.

“Untukmu, Tuhan.”

Β Terbaring dalam alunan napas yang melambat, menghirup pertanyaan selanjutnya yang harus kujawab dalam tatap.

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.

Ada waktunya untuk menangis.

“Untuk siapa?” Tuhan bertanya.

Tidak.

Ada.

Jawaban.

 

Jakarta, 30 November 2017

Catatan dalam diam #1

Wajah-wajah terbakar matahari.

Senyum-senyum terbakar antusiasme.

Tersimpan sekotak cerita di balik binar mata yang menyambut kedatangan kami. Keterbatasan ucap lidah tidak menghalangi kehangatan yang disampaikan. Kesederhaan yang sudah lama mendebu di kehidupan kota..

Saya membayangkan, bagaimana jika orang-orang ini tercemplung di perkotaan dengan segala jurang perbedaan dalam hal-hal yang menjadi dasar berkehidupan. Teringat sebuah pepatah:Β change is never easy.

Saya rasa begitu.

Ketika masuk dalam ruang dengan segala variabel berbeda, variabel waktu yang harusnya linier, menjadi geometris. Dalam diam, pertunjukan yang menunjukkan perubahan terjadi secara konstan. Kalian tahu, konstan berubah. Sejauh apa, sedalam apa waktu menjadi penari, melelapkan jiwa yang mulai terbiasa, mengalir bersama arus yang bernama pilihan. Seakan pilihan.

Dalam bising yang disuguhkan senyap pedesaan, waktu melakon kepala desa, menutup jendela dan lampu kamar tidurnya, beristirahat bersama bintang-bintang yang bisu menjaga.

Bisakah, bolehkah, saya mohon dengan sangat, untuk seseorang sampaikan kepada waktu, agar tidak tergesa-gesa meninggalkan suka untuk menjemput luka.

Waktu menjabat tanganku, kali ini satu kedipannya membutuhkan waktu yang biasanya cukup untuk tiga.

“Change is never easy, but it always moves. Forward or backward, let me sit behind the wheel and let you be my guest. Hold your breath, ponder your mind, make it a lifetime decision. Then open, open your eyes.. I’ll let you drive.”

 

amanatun selatanAmanatun Selatan, NTT

18 Oktober 2017

Option

Decisive.

That’s one of the leader’s trait eh?

I took a hard decision yesterday. That one who makes your night haunted by the “what ifs”. It didn’t hammered me down to the bottomless pit. I’m over that phase.

Rather, I asked, where did this come from?

The storming gush of “let’s do something”, is it lingering?

Is it the time when people, whom once sharpen the prolific voice of idealists, starts becoming alike?

Is it the time when people, whom once stomped the ground wherever they stand, starts crawling to find a spot in this merciless world?

Are they going low,

Or am I failed to see that it is just adapting?

Transisi

Semula kepindahan Tegak Lurus Bumi ke WordPress, saya berencana WordPress untuk tulisan mengenai global health, Tumblr tetap menjadi tempat curhat ngalor ngidul entah apa. Tapi ternyata kebablasan nyaman sama WordPress. #eh. Jadi saya putuskan menulis di sini juga, dalam kategori Journal. Kiranya dengan dituang dan mengalir, ia tidak menjadi keruh.

Saya sudah cukup lama tidak menulis, ada rasa enggan ikut arus penulis yang tulisannya sebagian besar bernaung di linimasa media sosial, yang sebenarnya secara umum merupakan hal baik. Saya berusaha menjauhi bacaan soal opini orang lain mengenai isu sosial. rasanya cukup dulu Pilkada membuat saya banyak kehilangan teman dan memalingkan diri dari politik sementara waktu.

Saya berusaha menjauhi bacaan soal opini orang lain mengenai isu sosial. rasanya cukup dulu Pilkada membuat saya banyak kehilangan teman dan memalingkan diri dari politik sementara waktu.

Saya mulai lagi, dengan Transisi.

Saat kita berumur 1 tahun, kemudian waktu berlalu dan umur kita menjadi 2 tahun, rasanya begitu signifikan arti sebuah ulang tahun. Umur kita menjadi dua kali lipat umur sebelumnya.  Coba perhatikan, semakin bertambah dewasa, misalnya umur 20 ke 21, tidak begitu berarti karena ia bertambah hanya 1/20, tidak lagi 2 kali lipat. Mungkin, tanpa kita sadari, begitu pula yang terjadi dengan bulan dan hari. Mungkin, itu juga yang terjadi dengan setiap momen,

Kita merasa perencanaan semakin panjang ke depan semakin bagus, hitungan tahun bahkan puluhan tahun. Saya berencana kuliah di Harvard tahun 2020, menikah di umur 26, dua orang anak, tinggal di sudut Yogyakarta. Lumrah dan visioner, bukan?

Beberapa bulan ini, banyak renungan-renungan yang saya hitung mundur menyusuri memori, bukan ke depan meraba masa. Prof. Richard Muller bertanggung jawab penuh atas pikiran saya mengenai konsep waktu karena buku terakhir beliau, Now: The Physics of Time, mengenai relativitas waktu. Dalam bukunya, Prof. Richard memaparkan bagaimana sebenarnya konsep “sekarang”, “saat ini” sebenarnya relatif tergantung sudut pandang siapa, tidak absolut. Contoh sederhana: GPS yang kita pakai di gawai? Satelit harus menyesuaikan waktu di jam kita dengan pergerakan satelit tersebut (3.8 km per second), kecepatan tersebut membuat dilatasi waktu dalam 1 hari (24 jam) memanjang sebanyak 7,200 nanosecond, saking kecilnya seperti tidak ada perbedaan (tepatnya 24,000000002 jam). Kecepatan gelombang radio adalah 1 kaki/nanosecond. Akibatnya, harus ada kalkulasi dilatasi waktu antara “saat ini” menurut satelit dan “saat ini” menurut kita, pengguna GPS. Jika satelit mengabaikan adanya dilatasi waktu ini, maka posisi kita sejauh 7,200 nanosecond, yaitu 7,200 kaki, kira-kira 2.25 km. Sulit mengatakan bahwa 7,200 nanosecond tidak signifikan, karena dengan dilatasi sesingkat itu, posisi kita bisa meleset 2.25 km.

Hal ini juga membuat saya berpikir mengenai sifat omnipresence Tuhan semakin dekat untuk dipahami manusia seiring berkembangnya pengetahuan mengenai waktu. 

Saya menelusuri ulang, tahun-tahun, bulan-bulan, hari-hari yang telah dijalani, bagaimana keputusan-keputusan minor menyusun momentumnya menjadi sebuah klik: keputusan mayor. Bagaimana itu juga mungkin terjadi di kehidupan orang lain, di masa yang sama, masa yang berbeda, masa yang akan datang, masa yang batal datang karena keputusan-keputusan minor di tengahnya. Selagi waktu memang linier berjalan ke depan, tapi diri saya mengalami transisi ke belakang. Mengutip Tame Impala, it feels like I (we) only go backwards.

Pikiran saya penuh sesak dengan absurditas perjalanan waktu dan sekuens kejadian.

Jika saya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memulai ulang kehidupan dari nol dan saya bebas memilih hidup siapa pun, kehidupan siapa yang akan saya minta?

Dalam doa dan renungan, saya mendapatkan beberapa hal yang menjadi pertimbangan; Tuhan berdaulat penuh (Ratapan 3:37-38; Ayub 2:10; Amsal 16:33; Matius 10:29), Tuhan akan menjalankan seluruh rencananya (Ayub 42:2; Yesaya 46:10; Daniel 4:35), dan tentunya (Kejadian 50:20) dan (Ibrani 12:11).

Pada akhirnya saya menjawab, saya akan jalani diri saya lagi. Dengan segala kegagalan, kepahitan, jatuh bangun, dan air mata, saya akan jalani lagi dengan sukarela.. karena jika ini yang terbaik, untuk apa menghidupi kehidupan lain yang bukan kehidupan terbaik.

“God allows us to experience the low points of life in order to teach us lessons that we could learn in no other way.” – C. S. Lewis

Transisi. Berproses. Jalani. Berkali-kali saya harus ingatkan diri sendiri mengenai proses, kesetiaan pada perkara kecil sebelum diberi perkara besar. Karakter mendahului penghargaan. Manfaat mendahului popularitas. Tumbuh mendahului penghormatan.

To my Depression,

But I know that I’ll be happier
And I know you will, too
Said, I know that I’ll be happier
And I know you will, too

Eventually
Eventually

— Eventually, Tame Impala

Saya pulang. Saya siap kembali berbagi.

2:44, 5 Juni 2017