Kebebasan

Penuh dengan banyak hal, saya mencoba mengurai kusut benang-benang yang ingin saling mendahului dalam tangga prioritas di kepala saya, ya kita sebut saja kumpulan ini dengan sebutan: namanya-juga-hidup. Sekian bulan saya tidak komentar, karena berdebat dengan orang bodoh hanya membuktikan ada dua orang bodoh dalam debat itu, kata seorang filsuf. Saya kembali berusaha mencari, apa itu kebenaran. Nyatanya, dalam praktik kehidupan, semua golongan mengklaim kebenaran, padahal tidak mungkin ada dua kebenaran yang bertolak belakang. Antara salah satunya benar, atau keduanya salah.

Jawaban. Saya pikir itu (ilmu) yang dibutuhkan untuk membuang tendesi salah sangka, menjernihkan pikiran sebelum mencapai konklusi, atau dengan kata lain meningkatkan level kebijaksanaan. Ini membuat saya meredupkan komentar-komentar nyelekit yang tidak jarang melukai orang atau grup tertentu.

Kesalahan saya yang terbesar adalah, menganggap orang lain melakukan hal yang sama. Ketika saya diam, mencari pengertian, saya kira orang lain melakukan hal yang sama. Ketika saya menolak masuk ke debat kusir dan saling melukai relasi, saya kira orang lain melakukan hal yang sama. Juga ketika saya mengumpulkan data dan kebenaran yang teruji, ketika saya berusaha mati-matian memperjuangkan itu untuk kebaikan banyak orang, saya kira mereka akan melakukan hal yang sama, dan sama-sama mengerti.

Beberapa orang (mungkin banyak) yang terluka dengan perkataan, sikap, dan tindakan saya karena perbedaan kutub dalam menilik kebenaran. Seperti yang sudah saya sebutkan, tidak mungkin ada dua kebenaran yang bertolak belakang. Saya putuskan untuk berjuang, apakah saya merasa paling benar? Tidak juga, namun saya berprinsip harus perjuangkan yang menurut nurani saya benar. Jika kutub seberang lebih benar, kita buktikan di arena yang tepat, dengan gagasan dan landasan yang tepat juga. Jika di awal saya sebutkan sekian bulan saya tidak berkomentar, ada beberapa hal yang saya diamkan beberapa tahun, karena saya tidak mau ngotot membuktikan saya benar, tapi mengorbankan relasi. Imbalan yang tidak sepadan. Saya kira mereka melakukan hal yang sama, tapi ternyata mereka meracuni orang sekitar dengan membentuk opini yang tidak benar dan penuh prasangka tak berdasar.

Kecenderungan saya untuk diam, sarkastik, membuat plot untuk mempermalukan di depan umum, tidak komunikatif, itu semua keburukan yang saya sadari, saya pahami, dan terus saya perbaiki. Jika anda termasuk orang yang saya sakiti, saya akan menyampaikan permohonan maaf, karena menjadi sebuah kemunafikan jika saya berkata saya ingin. Sebelum itu, saya akan katakan beberapa hal.

Pertama, mengutip Anais Nin; we don’t see things as they are, we see things as we are.

Jika kacamata prasangka, asosiasi golongan yang sejalan dengan anda, asosiasi saya dengan golongan yang berseberangan dengan anda, kebenaran relatif yang sudah anda klaim dengan confirmation bias, strawman, tanpa landasan logika dan argumen yang jelas, dan anda tetap mendapati saya bersalah, curang, menyalahi aturan, saya minta maaf.

Kedua, salah satu teman saya pernah berkata: if a person said we hurt him/her, we don’t get to choose to say that we didn’t. Respons kita menentukan apa yang mengalir dari hati kita. Saya memilih untuk menghargai perasaan orang yang lain yang terluka karena saya walaupun menurut logika saya, belum tentu itu karena saya. Jadi jika timbul perasaan sakit hati karena saya, saya minta maaf.

Ketiga, saya ingin sampaikan opini praktis saya hal yang berkaitan dengan yang kedua. Jika saya merasa seseorang menyakiti saya, benarkah orang itu yang menyakiti saya, atau ketidaksesuaian dengan persepsi (ilusi) saya yang membuat saya sakit hati? Sudahkah saya periksa kebenaran yang hati saya sendiri rasakan sebelum mengatakan orang tersebut yang menyakiti saya?

Jika setelah berpikir jernih tanpa cacat logika selayaknya manusia berpendidikan, sudah mencari kebenaran, tanpa embel-embel asosiasi bizarre, prasangka, saya memang menyakiti anda, saya minta maaf.

Jangan sampai, kebebasan kita dalam berperasaan membuat diri kita hipersensitif terhadap kebebasan orang lain. Kebebasan yang sesungguhnya, adalah kebebasan yang dibatasi oleh kebebasan orang lain. Jika kebebasan kita membelenggu kebebasan orang lain, menyalahkan orang tersebut karena mengganggu kebebasan kita, kemudian kita berteriak ke seluruh dunia bagaimana orang itu mencederai kebebasan, itu bukan kebebasan, tapi kebangsatan.

Saya tidak perlu minta maaf untuk yang terakhir, kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s