A Prince in a Republic

​#SelesaiBaca | A Prince in a Republic

Sultan HBIX mulai dikenal sejak masa studinya di Universitas Leiden karena keaktifan organisasinya. Mengirimkan Dorojatun (nama panggilan Sultan HBIX) ke Barat untuk studi merupakan strategi Sultan HBVIII untuk membiasakan anak-anaknya dengan lingkungan, kultur, dan kehidupan intelektual di Barat. Hal ini umum dilakukan oleh keluarga sultan pada tahun 1900an, termasuk Sunan Solo, Sunan Mangkunegara dan Pakualam.
Keaktifannya di lembaga mahasiswa Leiden membuat Minister Welter “full of praise for R M Dorojatun” dan membuat nama Dorojatun melejit “because he seemed the kind of Western-oriented prince.”
Saat Sultan HBIX diangkat menjadi Sultan, tanggal 18 Maret 1940, yang artinya Yogyakarta masih berada di bawah jajahan Belanda. Governer Adam (Belanda) menambahkan “You have had, I believe, no reason to complain about my good faith,” yang kemudian ditanggapi oleh pernyataan Sultan HBIX: Al heb ik een uitgesproken Westerse opvoeding gehad, toch ben ik en bliff ik ej de allereerste plats Javaan.” Dengan kata lain, “I have had an extensive Western upbringing, yet I am and remain above all a Javanese.” Pernyataan singkat yang mengundang beberapa interpretasi, misalnya apakah ini pernyataan nasionalisme atau Sultan hanya memikirkan Yogyakarta? Sultan hanya menyebut dirinya Javanese, bukan Indonesian. Strategi yang menarik.
Lalu saat kemerdekaan terjadi, HB IX punya pilihan: menolak Republik dan beraliansi dengan Belanda, deklarasi Yogyakarta sebagai daerah independen, /wait and see/, deklarasi dukungan untuk Republik dan merelakan Kesultanannya, atau opsi terakhir (yang akhirnya beliau pilih) mendukung Republik dan mempertahankan Kesultanan. Keputusan Sultan HBIX ini asal usul Yogyakarta disebut sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta. Taktis.
Perjuangan tidak berhenti sampai di sana, banyak gejolak setelah deklarasi kemerdekaan. Namun ada satu bagian yang menurut saya pemikiran Sultan HBIX relevan dipelajari untuk diterapkan sekarang. Ketika ditanya adanya kemungkinan revolusi sosial di Jawa seperti di Sumatra, Sultan menjawab perilaku seperti itu tidak mungkin terjadi di Yogyakarta. Tapi jika “revolusi sosial” yang dimaksud adalah terciptanya daerah modern, eliminasi iliterasi dan peningkatan taraf hidup sosial, ini adalah tujuan Republik yang mendapat dukungan Sultan sepenuhnya.
Testimoni dari P.J.A. Idenburg tentanf Sultan HBIX: HBIX as a high calibre Javanese prince who had managed to maintain his standing even in the difficult Japanese period and had shown a keen appreciation of the new circumstances. HBIX has endless patience and is not a figure who would act in a spontaneous and unprepared manner when the aims of the action are not assured.
Tokoh Indonesia yang paling saya kagumi sampai saat ini, dan buku ini paling komprehensif menceritakan setiap detail perjalanan hidup beliau. 👌

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s