Failure

I failed again.

In my loneliest nights, those sticky shadows creeps in. They cloud me from God’s limitless grace. Blind and deaf. I failed again.

The corner of my room is the warmest cliff I have ever visited. Gallant and deafening wind became my comfort. O darkness I fell, indulge me in the blankest sheet you proposed. Unveil the beast of my past, time-traveler. I long for the relativity of time. Instruct me with your deepest tangled-thoughts. We shall be exiled far from exaltation’s horizon. We will tend our bleeding wound with salted sin.

That night.. is a portrait of my dismembered mind and heart; savagely ripped from common sense.

They call me headstrong. Extrapolation of utopian-but-harmonised answer leads to it, maybe. They chose to see me as idealist instead of delusional. Occasionally, world pissed me off, but my head never accepted its slightest ridicule. Bandaged in dream and nobel goal, I forced my way. Somehow I get away with it for almost 20 years.

Until one stomp of hard rejection, I’m on a slippery slope of failure. The fall of confidence, chronic & progressive solitary bubble, extreme touchy-feely, fear in a form of perfectionism, all wrapped up in a society-familiar term: introvert.

The misconception about introvert “doesn’t enjoy social event” and the uprising popularity of MBTI and Jungian Typology colored the years of my truth-seeking mind. The madness going over to divide people into extrovert and introvert, in order to pseudoanalyst their traits and justify their misbehavior added up a pressure on my back.

“They don’t understand.”

I embraced the glorious serenity of “me time”. It helped me harnest ideas from my head. Some, if not most, do experienced the same thing, they maximized their depression as a channel to liquidify and boil their works. I kinda like the word “saturation” to explain this phenomenon, in a way it is aligned with “no art is born without sadness” said by one of an artist.

Nothing’s wrong, really. Everything flows with its constantly changing current. Nothing, until it bumped my threshold and causing explosion here and there. Mood swing, broad range of emotion in a matter of seconds, so-called laziness, not-typical-INFP kind of mess. It rusted my dream, decayed by time. Dragged from among the stars, speared into graveyard’s door.

I failed again.

The constant back and forth between Future and Past was (maybe, and is) the theme of my head’s timeline. Burned everything in between.

I never lived.
I am an insignificant dust in Chrono’s world. Bouncing between two polars powered by trauma and dream.

In the end, I managed to finish my study; medicine.

The end of one hell of a phase. This should be my turning. This should be the exact one point where change is inevitable. Knowledge may be the key, but it always changes and I need a perfect ground to stand tall.

I should be over but limitless grace sustains. I need to find a rock to balance my failure, to appreciate and not to underestimate the weight of it brings.

I should look up and climb. I should look down and thank.
I should move forward, and try leave my past with peace.

I must learn to cast the mantra more often: I am ultimately weak but His grace made perfect in it.

December 25th, 2016.

Happy Born Day, Christ the Messiah.
You are, indeed, Prince of Peace.

Advertisements

Akhirnya selesai

Akhirnya selesai

Frase yang sudah lama ingin saya tulis: akhirnya selesai.

Menarik, frase “akhirnya selesai” ini saya tulis di Kota Pelajar. Apa coba maksudnya Tuhan? Selesai jadi pelajar kah? Semoga bukan ini yang akan terjadi. Guru saya pernah bilang, hari dimana kamu berhenti jadi pelajar, kamu berhenti hidup. Yak, saya belum mau mati dulu sih pak. Jadi saya tetap menyandang status pelajar, walaupun pelajaran kali ini berakhir di Kota Pelajar. Ehe. Saya mau berbagi sedikit pengalaman singkat, dari beberapa kejadian yang berkesan selama fase perkoasan ini. Untuk yang juga selesai, high five! Untuk yang sedang menjalani, selamat membaca walaupun sambil jaga malam hehe.

Masa panjang yang menjadikan saya makhluk soliter, reaktif, emosional, budak kafein, dan segala kehinaan lainnya, akhirnya berakhir. Mungkin yang paling tepat menggambarkan masa ini adalah: keras. Bahasa yang mungkin tidak asing, tapi tetap saja sakit kepala kalau diingat-ingat perjalanannya. Saya yang tidak pernah mau sadar (denial) betapa saya keras kepala, berapa kali pun orang berkata saya ini keras kepala, akhirnya kena batunya. Saya dibenturkan sekeras-kerasnya di fase ini, akhirnya ya pecah. Ga ada pilihan lain selain pecah kalau dua benda keras dibenturkan berulang-ulang. Koasnya sih tidak pecah, dia akan selalu seperti itu, saya yang pecah. Berkeping-keping.

 

Krisis identitas, krisis harga diri, dan malu. Itu tiga hal paling membekas secara umum. Sekali waktu saat itu saya menjalani stase OBGYN. Untuk kalian yang mengernyitkan dahi, menghela napas, atau tersenyum setelah membaca OBGYN, I feel you bro. Ini stase mayor ketiga berturut-turut (iya ga salah baca, berturut-turut) setelah Bedah dan Anak. Ada satu hal yang saya ingat betul di stase ini.

Dengan kelelahan maligna saya jalani Obgyn, saya sekelompok lagi nunggu konsulen visit di bangsal. Kebetulan ada ruangan untuk perawat dan bidan makan, kosong, jadilah kami nunggu di sana. Saya ke Nurse Station mau pinjam remote AC. Kepala Bidan bilang: Gak. Boleh.

Saya tanya kenapa kok ga boleh. Dia jawab: Ngapain nyalain AC boros listrik ah. Di situ kan GAK ADA ORANG.

WHAT?! LU GA LIAT KITA SEMUA DI SANA DARITADI? LAGIAN EMANG LU YANG BAYAR LISTRIK?

Buset dah.

Akhirnya ya udah, anggep aja matanya kelilipan mekonium dan ketuban ibu-ibu KPD tadi malam. :”)

Sepengelaman saya, hampir 70% lah tekanan koas ada di tempat dan orang-orang yang terlibat menangani pasien, bukan pasiennya. Oke lah kalau pasien sulit penangannya juga sulit, belum lagi mau tiap konsulen beda karena mereka sekolah spesialis di tempat yang berbeda juga.

The pressure is real. Saya termasuk orang yang cukup lihai manajemen waktu dan prioritas. Tapi di koas, GILA. Ternyata manajemen energi itu jauh lebih penting dari dua itu. Percuma ada waktu kalau ga ada tenaga. Percuma depan kita buku dan kita ada waktu belajar, kalau sepanjang waktu kosong itu mata minta merem terus. Ini waktunya dimana badan kita akan berontak. Penting banget buat jaga kondisi fisik. Salahnya saya adalah saya mendewakan tidur dan ga olah raga. Tanpa olah raga, bakalan ngantuk terus.

Weekend itu saya pulang ke rumah. Saya cerita sama Papa saya.

“Pa, capek koas. Kenapa orang memperlakukan koas seenaknya. Saya kan juga capek, saya juga mau belajar, tapi selalu dimarahin tanpa alesan yang jelas, udah gitu ga diajarin! Rasanya mau berenti koas aja Pa, kerja yang lain. Udah ga minat jadi dokter. Munafik dunia medis.”

(Papa ketawa kecil, Mama dateng, pura-pura nonton)

“Van, hidup ya emang begitu. Ada 3 fase dalam hidup: saat kamu umur 0-20 tahun ini saatnya kamu bertumbuh dan belajar. Umur 20-60 tahun ini, yang lagi kamu jalanin, waktunya mengenal dunia dan membangun karir. Umur 60 tahun ke atas ya tinggal nikmati hidup aja sama anak cucu kamu. Kamu berapa lama ketemu orang ini? 2,5 bulan kan? Terus kamu mau biarkan orang yang cuma liat kamu 2,5 bulan hancurin karir kamu yang masih 40 tahun lebih?

Fase jahanam ini menjadi momen saya belajar 1 hal penting dari Papa. Semenjak itu, setiap mengalami hal serupa di koas, saya tahan diri dengan ngingat pertanyaan ini. Pertanyaan loh ya, bukan pesan. Ini 1 hal yang saya suka dari Papa saya, tidak pernah ada pemaksaan yang tidak perlu. Saya bisa saja hancurin karir saya kalau saya mau berontak, tapi sampai akhir ini, saya bisa menahan diri. Thank you, Paps.

Pernah juga Stase Bedah, mayor pertama. Hari kedua, saya ditanya 1-on-1 sama Konsulen mengenai pasien yang saya follow up. Beliau nanya anamnesis dan pemeriksaan fisik apa yang saya harus tanya dan periksa kalau pasien dengan tumor payudara, intinya saya salah, ngaco, dikoresi Konsulen, terus saya (dengan bodohnya) bilang “Tapi hasil Patologi Anatominya dok..” beliau langsung marah, gebrak meja, saya diteriaki ng*n**t, kunyuk, goblok. Lemes gemeteran seharian. Hari ini selesai semua pembedahan jam 1 malam, tapi diajak konsulen lainnya operasi di kota lain, disuruh setirin mobilnya soalnya dia mau istirahat sebelum operasi. Ada 3 operasi soalnya. Ada 3..

Saya sampai kosan jam 6 pagi. Jam 8 sudah harus ke RS lagi. Dan jaga malam. Artinya saya baru pulang besok malam, jam 1 (lagi). Kegilaan ini berlangsung 10 minggu. Saya ngeluh capek, sakit hati dikatain terus, ngantuk, emosional. Rekor saya pernah melek 68 jam. Gila. Di Stase Bedah saya belajar tidur dimana saja dan kapan saja. Tidur saat berdiri pun saya bisa. Tanya partner IPD saya kalau tidak percaya.

Tapi seru sih kalau diinget-inget, karena takut dimarahin dan dikatain akhirnya jadi hyperarousal kalau ada operasi konsulen satu ini. Kegigihan pantengin setiap operasi sampe buru-buru nyontek Google 15 menit sebelum maju asistensi, hal yang paling membekas menurut saya pas minggu terakhir ada operasi tumor payudara, asistensi konsulen yang teriakin saya itu. Gawat iki. Dulu hari kedua diterakin, kasusnya tumor payudara juga. Quick search Google baca-baca dikit, buka status pasien. Hafalin identitas sama riwayat pasien, lalu maju asistensi. Saat operasi, pertanyaan-pertanyaan lumayan bisa kejawab, walaupun tetep aja dikatain goblok (ini termasuk achievement loh cuma dikatain goblok), sampai beliau bisa ngomongin Alkitab dan lainnya, suasana agak santai. Pas dibuka, ternyata ada neovaskularisasi, udah infiltrasi ke pectoralis juga. Yang bikin berkesan bukan akhirnya ngeliat juga kanker yang infiltrasi kesana kesini setelah selama ini cuma teori, tapi yang berkesan waktu konsulen saya nanya: Van, baiknya kita apain nih?

Dok, kan situ operatornya. Saya cuma asisten atuh. Baru sekali liat kanker payudara. Ini pasien sampeyan, kanker pula! Kok jadi saya yang ditanya pendapat duluan. Tapi memang ini pasien yang saya follow up sih, saya ingat kemarin pasien dan keluarga bilang kalau nanti ini ganas, mau diambil aja payudaranya (mastectomy).

Ya udah saya bilang ke konsulen saya: Maaf Dok, kemarin waktu saya follow up suami dan keluarganya sempet bilang kalau ini ganas, mastectomy aja. Menurut saya sih, coba dipastikan lagi aja kali ya dok? Kan informed consent nya bukan mastectomy tadi.

Konsulen: Oh gitu. Ya udah saya keluar dulu ya tanya keluarganya.

Udah gitu aja, beliau lepas sarung tangan, gaun bedah, keluar ngomong sama pasien. Saya ya.. cuma bisa bengong depan payudara.

Cuma satu kali ini, selama koas hampir 2 tahun, saya merasa dihargai sebagai koas. Stase sebelum dan sesudah Bedah, ga ada pendapat saya sebagai koas yang dihargai lebih dari ini. Terima kasih dok. Kerasnya beliau sama koas, tapi lembut luar biasa sama pasien dan keluarga pasien benar-benar membekas. Tarif operasi sama beliau ga pernah jadi masalah. Malah, berkat beliau saya (sempat) berpikir mau jadi dokter bedah.

Pernah juga beliau liat pasien anak (bukan pasien doi), sesek napas dan gelisah terus padahal udah beberapa hari visit bangsal sana kok masih sesek aja. Konsulen nanya ibunya kenapa ini anak nangis terus, terus ibunya bilang ada cairan di paru-parunya. Kemarin udah disedot, tapi masih sesek. Disuruh coba foto lagi sama konsulen. Besoknya, pas lihat foto thoraxnya, penuh cairan. Konsulen saya minta izin coba pungsi cairannya (tanpa dipungut biaya). Pas dipungsi, isinya nanah. Disarankan sama konsulen pasang WSD (water seal drainage) intinya ini prosedur untuk ngeluarin semua cairan tadi supaya anak ini ga sesek lagi. Terus ya udah ditinggal kan pasiennya secara ini bukan pasien beliau.

Besok visit, anak ini masih ada, masih sesek, belum dipasang WSD. Orangtua nya bilang ga punya biaya. Konsulen saya marah, kenapa dibiarin anak ini sesek hanya karena biaya. Beliau langsung telpon ruang operasi, dia bilang mau pinjem ruangan bedah minor. Orangtua nya disuruh beliin selangnya di apotek, Cuma 27.500 saya ingat harganya. “Sisanya biar saya yang urus.” Cito dah semua koas semua langsung baca WSD dan Chylothorax dalam perjalanan ke OK. Akhirnya dipasang WSD, anaknya langsung tenang, bisa tidur. Orang tuanya nunggu di depan jadi kami bisa dengar waktu konsulen bicara sama mereka udah selesai prosedurnya segala macem. Yang kedengeran ya cuma 2: tangisan dan ucapan terima kasih.

Suatu kali saya pernah tanya beliau mengenai ATLS (Advanced Trauma Life Support), di akhir beliau cerita masa dia sekolah spesialis dan subspesialis yang ga bayar sama sekali. Tinggal juga gratis numpang sama tukang loper koran. Guru beliau di sana ngajarin jangan cari uang kalau jadi dokter bedah, biaya operasi itu udah mahal buat pasien. Kasian. Kata doi, gurunya itu sampai meninggal cicilan rumahnya belum selesai. Anak didiknya semua sampai sekarang masih patungan bayarin bantu cicilan itu. Konsulen saya bilang dia menerapkan apa yang diajarkan gurunya. Dan menurut saya, selama jadi koas dia, memang dia sederhana. Mobilnya cuma Vios. Padahal beliau bilang dari muda dia pengen punya mobil (saya lupa namanya apa) harganya 700 jutaan. Pas ada duitnya, dia berpikir mobil itu fungsinya sama berapapun harganya, ga usah lah mahal-mahal sayang uangnya. Sederhana aja. Jadilah Vios. Sisanya? Dipake buat hobinya, mancing.

Tempat paling tidak manusiawi itu bisa saja di Rumah Sakit. Banyak ketidakadilan yang jaraknya tercipta oleh harga dan administrasi. Tapi justru di Rumah Sakit juga, nyawa kemanusiaan akan berdenyut kencang oleh usaha manusia-manusia yang ada di dalamnya.

Saya suka menipu diri sendiri dengan berorientasi pada akhir ketika prosesnya sedang menyakitkan. Itu yang saya lakukan, dan itu salah. “Sebentar lagi ini selesai, sebentar lagi ini selesai, sabar sabar sabar.” Mungkin terlihat kontradiksi dengan nasihat papa saya, tapi ini pemikiran toksik. Saat saat dikatain “anjing saya lebih pinter baca EKG daripada kamu” itu justru saat kita belajar, jalani lah apa yang bikin sakit, apa yang bikin sesek, buktikan. Di sana pembelajaran menjadi nyata. Jadi bukannya dengan fokus dengan tujuan jadinya kita mengesampingkan yang saat ini menyakitkan, tapi justru itu saatnya menyesuaikan diri. Merespons dengan baik.

Hal paling saya ingat dari Konsulen IPD saya di akhir stase, beliau bilang begini:

“Saya jadi dokter punya prinsip sederhana: malu kalau ditanya ga bisa jawab. Teruslah belajar, malu kalau nanti pasien kamu tanya, kamu ga bisa jawab. Kamu anamnesis, pemeriksaan, diagnosis, sampai kasih obat dan edukasi, kamu harus tahu semua alasannya. Malu kalau ditanya kamu ga bisa jawab.”

Saya kira, ini bukan hanya prinsip jadi dokter. Ini prinsip hidup. Malu kalau tidak tahu. Sejalan dengan pemikiran konsulen bedah lainnya, “Jadi dokter itu dek, paling bahaya bukan kalau kamu tidak tahu, tapi dokter paling bahaya itu dokter yang tidak tahu kalau dirinya tidak tahu. Lebih parah lagi, sudah tidak tahu kalau dirinya tidak tahu, malah sok tahu!”

Saya terlambat bersyukur menjalani fase ini. Banyak kesempatan yang saya lewatkan hanya karena saya marah, tidak mau diproses. Marah melihat keadaan dan perlakuan. Dari kacamata idealis, pandangan saya tidak berubah, keadaan dan perlakuannya memang tidak pantas. Tapi jika harus menjalani lagi dengan pemahaman sekarang, sikap saya pasti berubah.

Semoga yang sedang menjalani koas bisa menikmati hari demi hari, memaknai kegagalan demi kegagalan, melembutkan sudut-sudut hati yang keras, karena saya gagal di hal ini. Semoga yang akan menjalani sebentar lagi, bisa menyambut dengan prinsip adjustment terutama dalam bertutur kata dan menerima kata, bersikap dan menyikapi, idealisme dan realita. Karena sebenarnya, semua itu tidak bertentangan, hanya sedang mencari titik keseimbangan.

Akhirnya, selesai.

Kita berjumpa lagi, persimpangan jalan. Saya masih berdiri, tegak lurus bumi.